Oleh : Munawir Aziz*
Pada 30 Desember 2009, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menghembuskan nafas terakhir di RSCM Jakarta. Sang Guru Bangsa ini meninggalkan ratusan juta manusia Indonesia dan warga dunia dengan jejak perjuangan yang luar biasa. Perjuangan Gus Dur untuk membela kaum minoritas, menegaskan subtansi pluralisme dan membela keadilan menahbiskan sosok ini sebagai Guru Bangsa yang disegani hampir semua kalangan. Gus Dur meninggalkan kita dengan menjadi episode terakhir pada tahun 2009.
Tokoh besar ini hadir dengan sederet julukan: kiai kharismatik, presiden umat, intelektual asketis, pengamat sepak bola, tukang humor sampai penikmat kuliner nusantara. Gus Dur yang lahir di Jombang, pada 1940 ini merupakan tipikal manusia dengan beragam bakat. Ia sejak kecil mendapat didikan dari orang tuanya untuk menjadi penyuara kebenaran, pembela kaum lemah dan teguh pada pendirian. Pelajaran dari kakeknya, KH. Hasyim Asy’ari—pendiri Nahdlatul Ulama—menghadirkan konsep keagamaan, asketisme dan moralitas yang kokoh pada pribadi Gus Dur. Ayahnya, KH. Wahid Hasyim—aktifis dan menteri agama pertama Indonesia—meletakkan dasar perjuangan intelektual dan politik yang membekas.
Sebagai manusia yang terlahir dari lingkaran keluarga pendiri NU, Gus Dur menjadi pendobrak sekaligus pembaharu di kancah organisasi nahdliyyin. Pada muktamar NU 1984 di Situbondo, Gus Dur menerima amanah sebagai ketua PBNU serta mendorong agar organisasi ini kembali pada khittah 1926. Gagasan ini ingin memberi rel aktifitas NU yang berpijak pada kemaslahatan umat, tidak sekedar tercebur pada ruang politik praktis. Pada masa kepemimpinan Gus Dur, NU menjadi organisasi yang melaju dengan konsep perjuangan dan pemberdayaan masyarakat yang visioner. Pada masa inilah, ”kaum bersarung” menjadi diperhitungkan dalam ruang intelektual Indonesia dan dunia.
Pembelaan Gus Dur terhadap kaum minoritas tidak dapat dilupakan dalam historiografi Indonesia modern. Pada 1999, Gus Dur diangkat sebagai presiden yang didukung oleh tim ”Poros Tengah”. Walaupun masa kepemimpinan Gus Dur berumur pendek, namun memberi efek penting bagi perjalanan sejarah Indonesia. Pada masa Gus Dur, warga Tionghoa mendapatkan kebebasan menjalankan ibadah agama, menggelar tradisi dan menghayatu kebudayaan leluhur. Kebebasan informasi juga mendapat jaminan penuh, yang diawali Gus Dur dengan menutup departemen penerangan dalam kabinetnya.
Orang Papua juga mendapat dukungan penuh untuk menyuarakan aspirasinya. Gus Dur mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua, dan menegaskan bahwa bendera bintang kejora merupakan simbol kebudayaan. Langkah-langkah ini hanya sebagian kecil dari sepak terjang panjang sang Guru Bangsa untuk memperbaiki kehidupan manusia Indonesia. Peristiwa Bruneigatte dan Bulloggate yang tidak pernah terbukti hingga kini, membawa jejak suram. Gus Dur dilengserkan melalui sidang istemewa MPR. Mayoritas warga Indonesia tentu masih ingat detik-detik jatuhnya Gus Dur dari kursi kepresidenan. Ungkapan bahwa anggota DPR seperti bocah di taman kanak-kanak masih terngiang sampai sekarang. Justru, ungkapan ini terbukti dengan banyaknya kasus korupsi dan skandal pelik yang melibatkan anggota dewan di Senayan.
Jejak Intelektual
Pada masa Gus Dur pula, anak-anak muda NU mendapatkan ruang untuk melakukan lompatan intelektual dengan menghadirkan pikiran kritis, berani dan cerdas. Sang Gus menjadi lokomotif bagi gerbong intelektual anak-anak muda dengan basis nahdliyyin. Pemikiran-pemikiran cerdas Gus Dur memantik ide dari anak muda NU untuk menggeliat dan menghasilkan produk pemikiran yang cerdas. Sang Gus tak hanya menjadi Guru Bangsa bagi manusia Indonesia, namun juga Guru Besar bagi generasi muda nahdliyin.
Kiprah Gus Dur untuk membentuk tradisi keilmuan, visi dan kerja kreatif yang kokoh bagi kader muda NU, menjadi sumbangan besar dengan hadirnya tokoh-tokoh muda Nahdliyyin yang memberi warna dan kontribusi di bidangnya masing-masing. Dari polesan Gus Dur, lahirlah berderet tokoh penting di ruang politik dan intelektual Indonesia. Mahfud MD, Muhaimin Iskandar, Alwi Syihab, Saifullah Yusuf, Khofifah Indarparawansa merupakan sedikit murid Gus Dur yang sukses di ranah politik. Di ruang intelektual, tak terbilang deretan anak-anak muda NU yang rajin menulis buku dan memberi sumbangan pikiran kreatif.
Jejak Intelektual Gus Dur dapat dilacak dari ragam tulisan yang dihasilkan dari ide-ide cerdasnya. Ratusan esai di media massa serta puluhan buku yang ditulisnya, menjadi serpihan penting untuk membaca sosok Gus Dur. Esai-esainya pada dekade 70 dan 80-an merupakan landasan sikap serta aktifitasnya dengan topangan ide kokoh.
Gus Dur juga menginginkan terobosan keilmuan dan gerakan sebagai laku kreatif, baik di NU maupun di lingkup kehidupan manusia Indonesia. Gus Dur, dalam esainya di Jurnal Prisma, April 1984, mengisahkan tentang terobosan kreatif yang dilakukan KH. Wahid Hasyim, ayahnya pada pembelajaran di pesantren Tebu Ireng, Jombang dengan menerapkan model madrasah nizamiyah, berupa sistem pendidikan agama dengan kurikulum campuran, pada dasawarsa 1930-an. Ternyata, sistem ini menjadi model utama dari ratusan madsarah dan pesantren. Menurut Gus Dur, ”dengan adanya budaya terobosan, derajat toleransi terhadap inovasi di lingkungan NU ternyata menjadi cukup besar.”
Teks seksi
Sebagai penulis, Gus Dur cukup produktif untuk menyampaikan idenya agar sampai di tangan pembaca. Beliau menulis sejumlah buku: Islam Tanpa Kekerasan, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, Prisma Pemikiran Gus Dur, Islamku Islam Anda Islam Kita, beberapa buku lain. Selain tulisan kreatif di berbagai media, Gus Dur juga sering menghadiri seminar internasional dan ceramah di forum-forum penting tingkat dunia. Kiprah Gus Dur tak hanya Indonesia, namun meluas di berbagai belahan dunia, dengan fokus pada dioalog antar umat agama, penegakan pluralisme, dan perdamaian dunia. Upaya Gus Dur untuk menggelar dialog dengan tokoh-tokoh penting antar agama di forum internasional, dan keterlibatannya pada organisasi-organisasi perdamaian, merupakan sumbangan pemikiran dan sikap yang luar biasa.
Gus Dur tak sekedar hadir untuk memberi pesan dan kesan yang subtansial bagi warga Indonesia dan negeri lain. Ia juga terus mengajarkan pada kita tentang pentingnya kejujuran dan keteguhan sikap. Gus Dur tak mendasarkan ilmu dan lakunya pada kepentingan pribadi, akan tetapi lebih pada kepentingan umat.
Saya kira, Gus Dur adalah kitab yang tak pernah selesai dibaca. Ia terus memberi petuah dan teladan dengan sikapnya yang konsisten memperjuangkan kebenaran. Ulil Abshar Abdalla menganggap Gus Dur adalah ”teks yang seksi”, yang menarik dibaca dari sisi manapun. Pendapat ini menjadi relevan ketika kita menyaksikan bagaimana prosesi penghormatan terakhir terhadap Gus Dur. Walaupun telah wafat, ia terus menarik untuk dibaca dan ditelaah. Pembacaan terhadap Gus Dur penting untuk menelaah bunga rampai dan ragam pikirannya yang berjejak di berbagai bidang.
Namun, yang paling penting, Gus Dur mengajarkan bahwa di puncak ketegangan dan konflik, ada politik humor yang mengatasi segalanya. Sebagaimana pendapat Greg Barton, ketika melacak jejak dan menulis autobiografi Gus Dur. Gus Dur mengajarkan bahwa, di pucuk konflik, selalu ada oase bernama ”kecerdasan humor”. Inilah warisan penting bagi manusia Indonesia yang sedang diguncang konflik politik dan skandal hukum.
*Munawir Aziz, Alumnus Center for Religious and Cross-Culture Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada. Redaktur KampungGusdurian. Beralamat di: moena.aziz@gmail.com