Apa yang saya maksudkan adalah perubahan mendasar, yang mengubah cara dan kebiasaan.
Gus Dur membubarkan dua kementerian (Departemen Penerangan dan
Departemen Sosial), menghapus larangan menjalankan tradisi budaya
Tiongkok, dan mengganti nama Irian dengan Papua. Ia membangun
Kementerian HAM, reformasi TNI, menggilir jabatan panglima TNI, dan
menjadikan Imlek sebagai hari libur resmi. Ia juga mengusulkan hubungan
diplomatik dengan Israel dan menghapus Tap MPRS No XXIX/MPRS/1966 yang
melarang segala bentuk ajaran Marxisme-Leninisme.
Seperti layaknya sebuah perubahan, era itu ditandai dengan lebih dari
1.000 kegaduhan, perlawanan, bahkan pemberontakan dan kematian. Ada
panglima yang mati mendadak, ada keributan besar di Maluku, pengunduran
diri dan pemecatan menteri secara mendadak, harga- harga berguncang, dan
seterusnya. Namun, seperti kata ilmuwan Kurt Lewin, perubahan besar
memerlukan tahap pencairan karena ”orang-orang yang berpikiran lama”
ingin mempertahankan kekuasaan, wewenang, dan rasa nyamannya.
Pada tahap ini terjadi pembusukan, pelepasan ikatan-ikatan, tetapi
yang dilepaskan tak membiarkan hal itu terjadi sehingga muncul
ledakan-ledakan. Namun, terlepas dari segala ketakteraturannya, Gus Dur
adalah sosok perubahan yang berani. Tanpa keberanian itu sulit dibangun
sesuatu yang baru.
Adapun perubahan besar di era SBY terjadi pada lima tahun pertama
kabinetnya: perdamaian Aceh (2005) dan konversi minyak tanah ke LPG
(2009). Tak ada yang menyangkal kedua perubahan itu berdampak sangat
besar dan tak lepas dari peran pendamping presiden, Jusuf Kalla, yang
gigih memanajemeni dan memimpin perubahan secara konsisten.
Setelah itu sebenarnya ada banyak ide perubahan yang digulirkan,
tetapi tak sedikit yang kandas di tengah jalan. Pengurangan subsidi BBM,
misalnya, hampir selalu kandas di tengah jalan. Berbagai frustrasi
dirasakan publik seputar impor pangan yang berlebihan, hilangnya produk-
produk pangan berulang-ulang, ancaman korupsi, konflik horizontal, dan
pembiaran terhadap ancaman kebebasan beragama. Namun, SBY juga dapat
pujian dan pengakuan internasional.
Mengalah dan kompromi
Sebenarnya Presiden SBY masih bisa menambah daftar perubahan penting
di sisa satu tahun kabinetnya, yaitu mempercepat proses reformasi
birokrasi, menggencarkan pemberantasan korupsi, memperbaiki industri
pertanian, dan penerapan kurikulum pendidikan yang lebih berkualitas.
Keempat bidang itu menyangkut kepentingan bangsa yang luas dan terkait
dengan bidang-bidang lainnya.
Tak dapat dipungkiri perubahan selalu menimbulkan kegaduhan dan
kritik. Manusia ingin berubah, tetapi tidak mau diubah. Ada yang bisa
”melihat”, ada yang ”tak mau” melihatnya. Ada yang mengkritik untuk
memperbaiki, tapi banyak yang langsung menolak dan menyatakan tak
bernalar, pasti gagal, dan seterusnya.
Kritik tak saja menimbulkan disharmoni, konflik, dan emosi, tapi juga
ide-ide baru. Ada yang menyatakan ”ini sulit tapi bisa”, ada yang
menyatakan presiden lelet, tetapi begitu direspons cepat dikatakan
”tergesa-gesa”. Saat berada dalam pusaran perubahan, manusia lebih
merasa heroik jadi penentang ketimbang kawan. Berkata ”no” kepada
penguasa jauh lebih terhormat daripada berkata ”yes”. Apalagi bila
pemerintah kehilangan kredibilitas karena perbuatan negatif kelompok
internalnya.
Menjadi pertanyaan, mengapa lima tahun pertama kabinet SBY berhasil
melakukan perubahan- perubahan besar? Bahkan, 56 juta rumah tangga bisa
diubah kebiasaan memasaknya hanya dalam tiga tahun? Jawabnya adalah
karena ada kepemimpinan Jusuf Kalla yang meneguhkan, membuat
pemerintahan jadi kuat.
Dalam buku Memimpin di Era Perubahan, H Pandjaitan mengutip SBY yang
banyak mengalah, berkompromi, dan lebih memilih konsensus: ”Saya tidak
ingin makin menjadi-jadi konflik dan benturan politik itu yang akhirnya
membawa negara kita persis seperti 10, 11, 12, 13 tahun yang lalu…”
Catatan saya, ketika kelompok penentang perubahan membaca kalimat ini,
mereka pun berkata, ”Kita tekan terus sampai ia berkompromi dan
perubahan gagal dijalankan.”
Bila itu terjadi, kita hanya menjadi bangsa yang complancent dan
tidak maju. Sebab, perubahan memang belum tentu menjadikan sesuatu lebih
baik. Akan tetapi, tanpa perubahan, tak akan ada pembaruan, tak akan
ada kemajuan.
Pendiri Rumah Perubahan; Guru Besar FEUI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar