Penulis : Th. Sumartana
Penerbit : Gading Publishing
Cetakan : I, April 2013
Tebal : xxviii + 133 halaman
Salah satunya ialah buku yang mulanya merupakan serpihan dari disertasi Th. Sumartana yang berjudul Mission at the Cross Road di Vrije Universiteit Amsterdam ini. Ia berusaha menilik Kartini dari laku dan pemikirannya tentang agama. Literatur-literatur kesejarahan, terutama surat-surat Kartini, digunakan sebagai jalan untuk meggambarkan pergolakan batinnya mengenai Tuhan dan agama.
Kartini lahir dari istri pertama Raden Adipati Sosroningrat yang bernama Ngasirah, putri Kiai Modirono. Saat diangkat menjadi bupati Jepara, ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Moerjam, seorang keturunan bangsawan Madura. Sebagai seorang putri yang bukan keturunan darah biru, Ngasirah harus rela dipanggil Yu seperti pembantu dan memanggil Ndoro, bahkan saat berhadapan dengan anak kandungnya sendiri, Kartini.
Keadaan semacam itu menjadi pemicu utama segala pergolakan pemikiran dan batin Kartini. Mulai dari persoalan emansipasi perempuan, pendidikan dan keadaan rakyat secara umum, hingga persoalan agama berjalan beriringan dalam pergolakan dirinya. Meskipun, dalam persoalan yang terakhir, pengetahuannya terbilang minim. Sebab, ia hanya diajarkan membaca Al-Qur’an tanpa faham maknanya, terlebih konteksnya.
Bahkan, putri bupati Jepara ini sempat menanyakan pandangan Islam terhadap perempuan kepada Snouck Horgronje yang berakhir dengan kekecewaaannya. Snock menganggap keadaan perempuan Jawa baik-baik saja. Sedangkan Kartini, dalam suratnya kepada Ny. Van Kol, Agustus 1901 menyebut bahwa penderitaan kaum perempuan yang seperti di neraka disebabkan oleh ajaran Islam. Maklum, selain menganggap Allah dengan metafora Bapa dan Cahaya, hati nurani ialah Tuhan bagi Kartini.
Baginya, hanya ada satu Tuhan untuk sekalian makhluk. Ia menganggap bahwa dasar agama ialah saling menolong, membantu, dan mengasihi. Oleh karenanya, Kartini sangat menyayangkan pertikaian yang terjadi antar pemeluk agama. Sebab, menurutnya, agama harus diabdikan untuk kepentingan kemanusiaan karena Tuhan dan kebaikan adalah satu.
Monoteisme dianut dengan teguh oleh Kartini sembari meletakkan agama sebagai landasan untuk penyempurnaan hidup manusia. Ia selalu mengajukan kritik terhadap kesenjangan yang terjadi antara penganut agama dengan ajaran idealnya tentang cinta kasih, keadilan, persaudaraan, ketaatan kepada Tuhan, serta pengorbanan. Ini disebabkan oleh perhatiannya yang cukup mendalam terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan yang dihadapinya.
Oleh karena itu, menurut Sumartana, ia menganut sinkretisme dalam makna aslinya yang berasal dari Plutarch, seorang filsuf Yunani yang hidup pada abad pertama. Sinkretisme, berasal dari kata synkretimos sepadan dengan kata synaspizien yang bermakna menggalang barisan menghadapi musuh bersama. Dengan ini, Kartini mengajak semua agama mengabdi untuk kemanusiaan. Melawan kemelaratan, kebodohan, keterbelekangan serta kemiskinan masyarakat saat itu.
Tak heran bila akhirnya Sumartana berkesimpulan bahwa Kartini, paling tidak, turut menyumbang tiga sila dalam Pancasila. Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dua sisanya, disinyalir Sumartana merupakan hasil rumusan di masa sesudah Kartini.
Akan tetapi, sebagai pahlawan nasional, akan terasa agak janggal bila Kartini tidak turut menyumbang gagasan pada sila kedua yang menyangkut nasionalisme. Bagi saya, Kartini sebagai pahlawan nasional, berikut gagasannya tentang agama, pertama-tama, harus diperiksa dalam konteks nasionalisme melawan kolonialisme. Dari situ akan nampak jelas bahwa gagasannya begitu kompromistis. Bahkan hampir semua gagasannya –bila tidak boleh dikatakan semua— selalu sejalan dengan J. H. Abendanon, salah satu penganjur dan pendukung politik etis yang dekat dengan keluarga dan Kartini secara pribadi. Bukankah Frantz Fanon (2000) pernah mewanti-wanti pribumi agar menyadari bahwa kolonialisme tidak pernah memberikan sesuatu tanpa pamrih?
Agama sebagai alas kemanusiaan, bagi Kartini juga diletakkan dalam kerjasamanya dengan pihak Belanda. Maklum, anak Bupati ini sangat menyayangi ayahnya. Bahkan, ia pernah memelesetkan kata regent yang oleh Multatuli dianggap sebagai penghisap utama rakyat sebagai regen yang bermakna hujan. Baginya, yang membuat rakyat menderita bencana yang kadang berwujud hujan yang berkepanjangan atau musim kering yang seolah tak mau berhenti (hal. 29). Dari sisi ini, semua pergolakan dalam diri Kartini, termasuk dalam hal keagamaan, tidak menghendaki kemerdekaan seutuhnya bangsa Indonesia,—bila tidak boleh dibilang tetap menginginkan penjajahan karena ia termasuk dalam lingkaran elite.
Namun, menurut Sumartana, Kartini memang hanya memikirkan persoalan agama yang murni tanpa sebuah cita-cita ideologis untuk tujuan politis (hal. 100). Lantas, bagaimana Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia bisa dicapai bila tanpa persatuan-nasionalisme-kemerdekaan? Terlebih dengan Ketuhanan yang Maha Esa sebagai landasan?
Menurut Yudi Latif (2011), Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menyangkut dimensi internal dan eksternal. Dalam dimensi internal, ia mengakui dan memuliakan hak-hak dasar warga dan penduduk negeri. Sedangkan, dalam dimensi eksternal, Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Lebih jauh, Latif menjelaskan bahwa sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia ialah takaran dari perwujudan sila-sila sebelumnya. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan serta demokrasi permusyawaratan memperoleh kepenuhan artinya sejauh dapat mewujudkan keadilan sosial. Dalam visi keadilan sosial menurut Pancasila, yang dikehendaki adalah keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Keseimbangan antara peran manusia sebagai makhluk individu dan peran sebagai makhluk sosial, juga keseimbangan antara pemenuhan hak sipil dan politik dengan hak ekonomi, sosial dan budaya. Sampai di sini, nampak bahwa Pancasila merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan.
Kartini memang hidup dalam masa penjajahan. Tetapi pergolakan batin dan pemikirannya tentang agama dan Tuhan memang lebih relevan di alam kebebasan. Terlebih yang penuh pertikaian antar agama seperti beberapa tahun belakangan. Dan sebagai serpihan disertasi tentang sisi lain Kartini, buku ini telah berhasil membagi kegelisahan serta rentetan pertanyaan. Persis seperti sosok Kartini yang penuh tragedi. WaLlohu A’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar