ISIS dan Ancaman Ideologi Transnasional terhadap Keutuhan NKRI
ISLAMTOLERAN.COM–
Akhir bulan Agustus lalu, bertempat di KJRI Frankfurt-Jerman telah
dilaksanakan pertemuan rutin diskusi bulanan yang diadakan oleh
Komunitas Reboan Frankfurt beserta masyarakat Indonesia dan warga Jerman
di Frankfurt dari berbagai latar belakang. Dalam kesempatan tersebut
hadir sebagai narasumber adalah Prof. Dr. Alwi Shihab, dengan tema
diskusi: ISIS dan Ancaman Ideologi Transnasional terhadap Keutuhan NKRI.
Berikut saya sampaikan resensi ceramah dan diskusi bersama beliau
terkait fenomena ISIS yang sangat jelas dan begitu rinci. Paparan beliau
mencakup tinjauan historis-sosiologis, tantangan-tantangan kedepan, dan
analisa tajam serta rekomendasi-rekomendasi terkait upaya pencegahan
ISIS dan gerakan radikalisme di Indonesia.
Sejak Indonesia diproklamirkan sebagai
suatu bangsa yang merdeka, semua pemuka agama bersepakat menjadikan
Pancasila sebagai ideologi bangsa, dimana tidak ada suatu agama atau
komunitas agama yang bisa memaksakan kehendaknya kepada agama lain.
Artinya sekecil apapun minoritas, mereka tidak boleh merasa sebagai
warga negara kelas dua. Semuanya sama dan setara.

Pernah tercetus ada sekelompok kecil
komunitas islam ingin mendirikan negara islam, tapi hal itu tidak
terwujud karena telah ada kesepakatan semua pemuka agama dan tokoh
politik bahwa negara kita adalah bukan negara agama, dan juga bukan
negara sekulerisme, tapi negara pancasila dimana semangat keagamaan ada
didalamnya. Dimana kerukunan serta persatuan bangsa adalah bagian
penting dalam tatanan negara kita.
Tantangan-tantangan masa sekarang adalah munculnya kelompok-kelompok radikal, buka
n
saja di Indonesia tapi di seluruh dunia. Radikalisme ini bukan monopoli
suatu negara. Di Amerika pernah ada Waco Texas, di Irlandia ada konflik
antara katholik dan protestan, di Israel menteri Rabin dibunuh oleh
kelompok radikal, dan lain sebagainya. Jadi radikalisme ada dimana-mana,
dan banyak sebab munculnya radikalisme ini.
n
saja di Indonesia tapi di seluruh dunia. Radikalisme ini bukan monopoli
suatu negara. Di Amerika pernah ada Waco Texas, di Irlandia ada konflik
antara katholik dan protestan, di Israel menteri Rabin dibunuh oleh
kelompok radikal, dan lain sebagainya. Jadi radikalisme ada dimana-mana,
dan banyak sebab munculnya radikalisme ini.
Di kelompok Islam penyebab radikalisme ada dua hal. Pertama adalah ideologi; dan yang kedua adalah realita politik.
– Realita Politik
Negara-negara yang beragama islam merasa
mendapatkan tekanan dari pihak-pihak barat. Realita politik yang
dirasakan oleh banyak kelompok radikal adalah Amerika dan Israel
bersama-sama tidak mengupayakan sedemikian rupa sehingga perdamaian bisa
tercapai. Karena itu kelompok radikal selalu menunjuk ke barat sebagai
kelompok yg memusuhi islam. Kelompok ini merasa islam masih mengalami
kehidupan yang marginal di dunia ini, dan tidak mendapatkan perhatian,
malah mendapat pressure dari barat sehingga radikalisme tumbuh. Lalu
menjadikan Israel, Barat, Amerika sebagai kambing hitam atas apa yang
terjadi di negara-negara islam. Jadi radikalisme ini tumbuh subur akibat
realita politik, dan terlebih lagi apabila ditopang oleh ideologi.
– Ideologi
Pada perang salib pada abad 11 hubungan
antara islam-kristen tidak harmonis, mereka saling perang dan bunuh
membunuh. Setelah perang salib dan setelah runtuhnya Baghdag pada abad
ke-12, ada kelompok dari cendekiawan islam yang berusaha merefleksikan
keadaan umat islam. Tokoh sentral dalam reformasi ideologi dan
puritanisme dalam islam tersebut adalah Ibnu Taimiyah (IT).
IT melihat keadaan islam pada abad 12
porak poranda dan berusaha untuk merefleksikan dan memetakan keadaan
bahwa islam pernah berjaya sampai India, Spanyol dlsb. Hanya dalam waktu
100 tahun islam sudah mengalahkan teritori romawi dan persia. Namun
kenapa abad ke-12 terpuruk? Ibnu Taimiyah menyimpulkan bahwa keadaan
umat islam pada masa itu dibandingkan masa sebelumnya, penerapan
ajarannya tidak sesuai.
Oleh karena itu menurut IT, ajaran islam
harus dimurnikan kembali ke orisinalitasnya yang tidak terpengaruh
budaya luar dan tidak terkontaminasi oleh ajaran lain. Menurut IT,
ajaran islam tetap, tapi pemahamannnya yang berbeda dari waktu ke waktu.
Sebagai pembanding, dalam paparannya Prof
Alwi juga menjelaskan bahwa usaha pemurnian agama atau puritanisme
tidak hanya di islam, di kristen juga ada. Misalnya adanya pemurnian
agama yang ditujukan terhadap kelompok Mormon di masa lalu yang
mengatakan ada wahyu melalui Joseph Smith.
Kembali ke Ibn Taimiyah (IT), Ada 4 hal menurut IT agar islam tetap murni:
1. Islam tidak boleh terkontaminasi oleh filsafat.
Karena menurut IT, filsafat dimulai dengan pertanyaan, sedangkan agama
dimulai dari keyakinan. Sehingga dikuatirkan kalau bertanya terus,
seseorang yang tadinya percaya akan goyah kepercayaannya. Selain itu
menurut IT, filsafat adalah kebudayaan Yunani. Pemahaman islam tidak
boleh terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran philosopis.
2. Sufisme (Tasawwuf dan Tarekat)
Hal ini dianggap sebagai infiltrasi dari kebudayaan dan kepercayaan
hindu dan budha. Meditasi menyendiri dan hubungan langsung dengan Tuhan.
3. Syiah Syaih dianggap
mengganggu kemurnian islam. Dan terjadi friksi dalam pemerintahan islam
antara khalifah Ali dan Muawiyah Gubernur Irak-Syam.
4. Komunitas Kristen Hal
ini dianggap tidak asli sehingga jangan mendekat supaya ajarannya
murni/puritan. IT kuatir jika umat islam berhubungan dengan umat kristen
bisa-bisa menganggap Muhammad juga anak Tuhan.
Menurut Ibnu Taimiyah (IT), empat hal ini
harus dibersihkan dari komunitas islam. Kemudian pada abad 18 ada tokoh
agama bernama Muhammad bin Abdul Wahab, yang dikenal dengan kelompok
Wahabi. Muh bin Abdul Wahab mengadopsi pandangan Ibnu Taimiyah sebagai
ajaran yang perlu disebarluaskan agar tidak terkontaminasi oleh ajaran
dari luar. Itu sebabnya pendidikan seperti kedokteran, engineering dll
dimajukan di Saudi Arabia.
Tapi tidak ada fakultas/jurusan
philosophy, apalagi mengajar tasawwuf. Dan terhadap umat kristen sedikit
dimarginalkan, bukan karena masalah benci tapi karena takut
terkontaminasi. Sementara syiah jadi musuh besar karena dianggap
mengganggu kemurnian islam.
Masuk ke ISIS, ISIS adalah kombinasi dari
ideologi puritan yang menjadi sangat radikal dan realitas politik yang
ada. Ini yang harus dibendung menurut Prof. Alwi Shihab. Ketika Mekkah
dan Madinah dikuasai oleh Wahab dan House of Saud, semua kelompok yang
mengajarkan selain Wahabism diusir, dibunuh dan dipenjara. Hasyim Ashari
kakek Gus Dur dulu sekolah di Mekkah dan Madinah.
Mendengar bahwa guru-guru disana diusir
dan dibunuh, beliau mengumpulkan kyai-kyai dan mendirikan NU. NU ini
didirikan sebagai reaksi dan sikap protes atas keadaan politik dan
keagamaan kelompok Wahab yang ingin memurnikan islam dan mengusir serta
membunuh kelompok-kelompok diluar mereka.
ISIS adalah kelompok wahabi juga tetapi
yang keras dan super-radikal, yang memaksakan kehendak serta menggunakan
kekerasan dalam upaya mencanangkan ajarannya. Prof Alwi mengingatkan
bahwa wahabi secara ideologi adalah bagian dari Islam dan bisa di terima
oleh komunitas islam selama mereka dapat menerima perbedaan pemahaman.
Yang menganggu adalah mereka yang wahabi radikal yang mengkafirkan
kelompok islam yang di luar kelompok mereka dan yang sekarang di kenal
sebagai kelompok wahabi/salafi takfiri yang sejalan dengan kelompok
ISIS.
Pertanyaannya, kenapa Saudi sekarang
tidak merestui ISIS padahal ideologi dasarnya mereka sama , Saudi adalah
wahabi dan ISIS adalah Wahabi/Salafi Takfiri? Karena ISIS punya prinsip
untuk kembali ke zaman nabi. Hal ini dianggap mengancam kedaulatan
House of Saud. Kalau kembali ke zaman nabi maka kerajaan tidak boleh
ada, karena kerajaan itu baru ada setelah pertempuran khalifah ke-4 dan
Gubernur yang memberontak. Sedangkan di Saudi dan Emirate, turun temurun
adalah kerajaan. Sehingga ISIS ini adalah ”unintended consequence” dari
suatu doktrin yang pada dasarnya ingin memurnikan agama, tapi kalau mau
konsekuen maka kerajaan tidak boleh ada.
Untuk itu ISIS harus dihentikan
perjalanannya oleh mereka. Karena kalau ISIS berkuasa, ia akan
mengganggu kedaulatan kerajaan (saudi). Oleh karena itu Ikhwanul
Muslimin dan Wahabi radikal yang ada di mesir diperangi oleh Saudi
Arabia. Itu sebabnya mengapa mereka mendukung militer dan mengabaikan
proses demokrasi terhadap kelompok IM meski ideologi mereka sama. Disisi
lain masyarakat tidak siap dengan ideologi kelompok-kelompok wahabi
ini. Rakyatnya tidak siap dengan pemaksaan kehendak.
Pada umumnya di Mesir ada filsafat,
tasawwuf, dan syiah diajarkan. Akan tetapi bagi kelompok wahabi ini
adalah hal yang berseberangan. Sehingga ketika kelompok wahabi berkuasa
yang pertama ia lakukan adalah menjatuhkan posisi Syeik Azhar oleh ulama
dari mereka. Ini kemudian menjadikan rakyat merasa tidak sesuai dengan
kehendaknya.
Menurut Prof Alwi, ini juga yang terjadi di Indonesia. Siapapun tidak bisa menerima ideologi ISIS. karena:
1. Kita punya ideologi bernegara
pancasila tentang kerukunan. Sementara ISIS tidak bisa ada kerukunan.
Kelompok yang lain dari mereka dituding kafir, kalau perlu dibunuh.
Syiah dan Sunni yang Islam saja dibunuh bila dianggap tidak sejalan
dengan mereka,apa lagi non-muslim.
2. Konsep khilafah artinya loyalitas kepada pemimpin diluar Indonesia.
3. ISIS akan menimbulkan ketegangan antar
komunitas agama yang beragam. Menurut Prof Alwi, ISIS terlalu jauh
dalam menerapkan ideologi mereka. Kita bisa tidak sepaham dengan
ideologi lain tapi tidak berarti harus membunuh kelompok tersebut. Kita
bisa berdampingan satu sama lain karena islam mengajarkan demikian.
Nabi menciptakan pemerintahan di Medinah dan mengundang semua
kelompok yahudi-kristen untuk bersama-sama membangun kota itu tanpa
mempermasalahkan apa agama kamu dan apa agamaku. Akan tetapi mari kita
membangun bersama-sama. Ini sebenarnya adalah semangat pancasila.Maka itu dalan Alquran dikatakan Lakum dinukum Waliyadin. Masih menurut Prof Alwi, tidak ada satu kelompokpun yang diberikan mandat oleh Tuhan untuk menjadi ”Acting God” bahwa kalian orang sesat untuk itu harus saya bunuh.Hanya Tuhan yang bisa mengatakan demikian. Inilah akal sehat yang tidak bisa menerima ISIS dalam kehidupan kita sekarang ini. Prof Alwi mengatakan terkait fenomena ISIS ini, hari ini namanya ISIS besok hari bisa jadi muncul nama lain lagi, tapi dengan ideologi yang sama.
Oleh karena itu, ideologi harus di-counter dengan ideologi, dan Pancasila harus dijaga. Jadi jangan hanya mengejar ’produknya’ (ISIS dan kelompok radikal), selama ’pabriknya’ (doktrin/ideologi) masih ada, pabrik ini akan ’berproduksi’ terus. Prof Alwi juga berharap agar pemerintah memperhatikan hal ini, ancaman ideologi ini berbahaya bagi keutuhan NKRI.
PENULIS: Izhar Gouzhary (SEORANG KOMPASIANER)
LINK TERKAIT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar