Ayah Prabowo Sempat Buron, Akan Kah Prabowo Mengikut Jejak Ayahnya?’ “Like Father Like Son”
Home » Opini » ‘Ayah Prabowo Sempat Buron, Akan Kah Prabowo Mengikut Jejak Ayahnya?’ “Like Father Like Son”
25/05/2015
Lensaberita.Net, Opini – Siapa
tidak kenal (alm.) Soemitro Djojohadikoesoemo. Ya, dia adalah ayah
kandung Prabowo Subianto. Publik mungkin lebih mengenal beliau dengan
sebutan ‘Begawan Ekonomi Indonesia’.
Soemitro
memang seorang ekonom kesohor di zamannya. Tak tanggung-tanggung, ia
ikut mendirikan Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia.
![]() |
| Foto Semasa Hidup : |
Tapi,
tak banyak yang tahu sejarah kelam doktor lulusan Nederlandse Economise
Hogeschool, Rotterdam, Belanda ini.Soemitro merupakan salah satu tokoh
penting dalam pemberontakan PRRI-Permesta pada 1958.
Ia merupakan orang yang mengendalikan dan mengorganisir pasokan
kebutuhan pemberontakan dari Amerika Serikat. Semua persenjataan serta
alat komunikasi modern disalurkan kepada gerombolan pemberontak melalui
Singapura. AS menyuplai persenjataan canggih seperti LMJ 12,7 mm,
bazoka, granat semi otomatis, persenjataan infanteri dan senjata-senjata
penangkis serangan udara, dll.
Bukan
rahasia lagi kalau AS saat itu amat membenci Sukarno, Presiden
Indonesia. Berbagai cara mereka tempuh untuk menggulingkan kekuasaan
Sang Proklamator. Termasuk di antaranya dengan menyokoh penuh
pemberontakan PRRI-PERMESTA. Sulit dibantah bahwa ada hubungan amat erat
antara Soemitro dengan CIA. Namun, upaya makar dari PRRI-PERMESTA
berhasil ditumpas.
Soemitro pun sempat ‘buron’ keluar negeri walaupun sebetulnya Bung Karno tak pernah mendendam pada para pemberontak.
Saat
akhirnya Bung Karno lengser –yang juga sulit diingkari adanya
keterlibatan AS dalam skenario G30S/PKI—peruntungan Soemitro berubah. Ia
sempat jual mahal kendati Presiden Soeharto memintanya pulang. Adam
Malik diutus oleh Soeharto untuk membujuk Soemitro di Bangkok.
Sebelumnya misi itu dijalankan oleh Ali Moertopo namun gagal.
Pada
29 Mei 1968, Sumitro beserta keluarganya kembali ke tanah air, langsung
menuju Cendana disambut oleh Soeharto. Tanggal 6 Juni 1968, susunan
menteri Kabinet Pembangunan I diumumkan, Sumitro menjabat sebagai
Menteri Perdagangan Orde Baru. Di kemudian hari hubungan Soemitro dengan
Soeharto kian dekat lantaran anak mereka (Prabowo dan Titik) terikat
perkawinan.
Jangan
heran kalau di hampir semua buku pelajaran sekolah tak pernah kita
jumpai cerita buruk soal Soemitro. Istilah Begawan Ekonomi Indonesia
mulai dipopulerkan untuk menyebut Soemitro.
Soemitro
lantas mengontak teman lamanya (baca: Amerika Serikat) untuk memberikan
beasiswa pada para calon ekonom-ekonom muda Indonesia. Sekarang paham
kan kenapa ekonomi kita berkiblat ke liberalisme.
Nah,
sekarang berselang 56 tahun setelah pemberontakan memalukan itu,
Prabowo berpeluang mengulangi ‘pengkianatan’ ayahnya kepada republik
tercinta. Dulu, Soemitro menjadi antek asing dan rela melihat perang
saudara di Tanah Air. Apakah Prabowo sudi sejarah buruk itu terulang di
Indonesia, hanya demi mengejar kekuasaan? Bisa saja, seperti kata
pepatah : like father like son.
Saat
pemberontakan PRRI terjadi dan disusul aksi minggat keluar negeri,
Prabowo masih kecil. Tentu semua memori itu membekas di otaknya dan
membentuk kepribadiannya. Makanya, saya sering tertawa sendiri kalau
melihat dia dengan lantang menuding pihak lawan sebagai antek asing.
Lucu juga kalau dia suka membawa-bawa sosok Soekarno dalam agitasi
murahannya.
Ya
sudahlah, semoga kekhawatiran saya berlebihan. Mudah-mudahan saja
Prabowo benar-benar cinta terhadap Tanah Air sehingga tidak konyol
membiarkan ‘perang saudara’ terjadi. Tak boleh ada setetes pun darah
tertumpah di Bumi Pertiwi hanya karena perebutan kekuasaan.
Penulis : Shendy Adam Kompasianer

Tidak ada komentar:
Posting Komentar