Hidup itu
adalah untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain kata
Baginda Nabi (dokumen di Mesjid Baiturahman Banda Aceh, setahun setelah
Tsunami)
Setelah gegar hati karena jaringan internet di rumah sedang kacau
balau dan belum ada perbaikan dari Telkom, saya ngacak ngacak cd
dokumentasi lama yang membuat saya menemukan beberapa foto yang
mengingatkan saya pada beberapa perjalanan ke Aceh, pada tahun 2005-2006
pasca Tsunami.
Tahun segitu ya, istilah selfie kayaknya belumlah seramai sekarang
ini. Tahun-tahun ini adalah masa kejayaan Multiply yang sekarang sudah
almarhum (duuh, jadi kangen deh sama MP). Kamera yang dipakai juga masih
kamera biasa. Sehingga membidiknya membuat kesulitan tersendiri.
Beberapa foto malah tidak kelihatan wajahnya.
Mungkin kalau menggunakan kamera Hp android seperti produk Smartfren tidak akan sesulit saat itu. Pada Smartphone Smartfren seperti Andromax C3s telah ditanami chipset Qualcomm Snapdragon serta ditenagai prosesor bertenaga Dual Core dengan kecepatan 1.2GHz Cortex A7 yang menjamin kecepatan penggunaan. Pada segi desain grafis Smartfren Andromax C3s, menggunakan prosesor grafik dari Adreno 301 yang mampu menghasilkan graphic yang bagus. Apalagi jika kita melihat spesifikasi Andromax C3s yang memiliki kamera depan 5 MP dengan dual LED Flash, sehingga nyaman dipakai malam hari atau ketika cahaya depan sangat minim.
Mungkin kalau menggunakan kamera Hp android seperti produk Smartfren tidak akan sesulit saat itu. Pada Smartphone Smartfren seperti Andromax C3s telah ditanami chipset Qualcomm Snapdragon serta ditenagai prosesor bertenaga Dual Core dengan kecepatan 1.2GHz Cortex A7 yang menjamin kecepatan penggunaan. Pada segi desain grafis Smartfren Andromax C3s, menggunakan prosesor grafik dari Adreno 301 yang mampu menghasilkan graphic yang bagus. Apalagi jika kita melihat spesifikasi Andromax C3s yang memiliki kamera depan 5 MP dengan dual LED Flash, sehingga nyaman dipakai malam hari atau ketika cahaya depan sangat minim.
Foto di atas merupakan foto saat saya dan Bapak saya meninjau ke
lokasi pembangunan sekolah di beberapa tempat di Aceh. Yang pertama
adalah aceh besar dan yang kedua adalah Aceh Barat (Meulaboh). Tahun
itu, Bapak sudah mendekati umur 70 tahunan namun semangatnya masih
seperti pemuda-pemuda harapan bangsa. Kepiawaiannya menjaga kondisi
tubuhnya diperlihatkan lewat foto ini. Durian Meulaboh yang memang
matang di pohon bisa dilahap sendiri dan tidak ada pantangan dalam hal
makanan. Padahal untuk umur seperti itu, beberapa makanan biasanya sudah
menjadi pantangan. Mungkin saja kebiasaannya mengkonsumsi jamu dan
dedaunan obat membuatnya tetap sehat dan bugar.
Orang muda adalah yang senantiasa mempunyai cita-cita, walaupun dia sudah di angka 70 tahun
Di tempat ini saya dipercaya untuk menjadi pimpro pembangunan
sekolah. Di Gunung Mas Meulaboh ini sudah ada fondasinya. Namun selama
bertahun-tahun, pembangunan tidak pernah diteruskan. Maklum saat itu
sedang kondisi kampanye sehingga dana cukup besar untuk meraih simpati
sesaat digelontorkan. Termasuk ke dayah (pesantren ini). Maka ketika
kami datang untuk melanjutkan kembali pembangunan yang tertunda sangat
lama itu, Pak Kyai pengurus dayah di Gunung Mas sangat senang.
Bagi saya sendiri, perjalanan ke Aceh adalah sebuah perjalanan yang
sarat dengan pembelajaran. Dari perjalanan ke Aceh (dan juga perjalanan
membangund sekolah di tempat lain) saya mendapatkan pengalaman luar
biasa.
mengunjungi kuburan ulama selain mengingatkan pada kematian juga menyerap semangatnya (berkunjung ke kubur Syiah Kuala)
Maka, dari semangat membangun bangsa itu kemudian lahir sekolah-sekolah di berbagai tempat. Yang membahagiakan, saya ikut merintis beberapa sekolah di pelosok Indonesia. Sebut saja Aceh, Nias dan Wakatobi. Ada jejak yang berhasil saya torehkan di tempat-tempat itu. Walaupun tidak kelihatan di sana, paling tidak ada beberapa fotonya. Termasuk yang pose-pose selfie.
Memang, kesempatan ke tempat-tempat itu saya pergunakan juga untuk mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Di Banda Aceh, tentu saja Mesjid Baiturahman menjadi tempat yang harus dikunjungi. Saat Tsunami melanda, mesjid ini menjadi tempat penampungan mayat-mayat yang jumlahnya ribuan.
Dahsyatnya Tsunami menjadi pengigat akan kuasa Ilahi
Selain tempat itu menarik, nama dari ulama terkenal itu sangat menarik perhatian. Namanya mengingatkan saya pada satu madzhab Islam yang banyak diikuti oleh orang-orang Iran. Apakah nama itu merujuk pada madzhab itu atau tidak, mungkin para ahli sejarah bisa mengurainya.
Tak lupa saya menginjakan kaki di Indonesia KM 0 Pulau Weh, Sabang.
Dari Lampuuk, kami naik kapal fiber menuju Sabang. Lalu menggunakan
mobil ke KM 0. Setelah melewati perjalanan cukup pangjang, kami tiba di
Indonesia KM 0. Sebagai bukti kalau kami sudah ke sana, sebuah
sertifikat diberikan setelah membayar sejumlah uang (saya lupa
nominalnya).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar