Jernih di Keruh Jokowi
Bagaimana menempatkan diri
di tengah keriuhan pandangan, argumentasi, dukungan, kecaman, omelan,
rumor, fitnah dll? Jangan sampai kita hanya jadi bagian yg memperkeruh
suasana sehingga tidak lagi bisa mengamati dan bersikap secara jernih.
Yuk simak yg berikut ini:
Opini Radhar Panca Dahana, Budayawan
(Media Indonesia 4-5-2015)
Berpikir Jernih di Keruh Jokowi
Kita
masih berjuang, dengan sifat, bentuk, dan esensi yang sama dengan 70
tahun atau 100 tahun lalu bangsa ini. Karena siapa yang tidak tahu,
kolonialisme juga imperialisme tidak pernah mati. Ia hidup bukan sebagai
zombi tapi sebagai kuman yang membelah diri, bahkan menjadi mutan yang
lebih sakti, tegas, telengas, walau seperti renik ia sembunyi. Dalam
hati, dalam pikiran, bahkan dalam dunia spiritual kita.
(Media Indonesia 4-5-2015)
Berpikir Jernih di Keruh Jokowi
Kita
masih berjuang, dengan sifat, bentuk, dan esensi yang sama dengan 70
tahun atau 100 tahun lalu bangsa ini. Karena siapa yang tidak tahu,
kolonialisme juga imperialisme tidak pernah mati. Ia hidup bukan sebagai
zombi tapi sebagai kuman yang membelah diri, bahkan menjadi mutan yang
lebih sakti, tegas, telengas, walau seperti renik ia sembunyi. Dalam
hati, dalam pikiran, bahkan dalam dunia spiritual kita.
SUNGGUH menarik! Berita berita
mengabarkan pendapat Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan, yang
menyatakan Indonesia masih membutuhkan IMF atau lembaga-lembaga keuangan
global lainnya. Sementara itu, dalam sidang KAA yang lalu, dengan gagah
dan berani–belum pernah dilakukan presiden sebelumnya–Joko Widodo
(Jokowi), presiden itu, menegaskan, “IMF, World Bank, ADB, dsb… sudahlah
usang!“ dan kita tidak perlu lagi tergantung pada mereka.
Apa yang menarik ialah berita di seputar
pidato itu yang memberi tahu kita isi dan tulisannya justru diproses
oleh staf-staf khusus Kantor Kepresidenan di bawah arahan kepalanya,
Luhut. Maka, bila sang Kepala Staf berpendapat IMF masih dibutuhkan,
tentu saja isi pidato tidak akan berisi penyangkalan. Artinya, mudah
saja, Jokowi merombak pidatonya sendiri, tidak berpatokan pada tim
penulisnya: Jokowi tidak (bisa) dikendalikan oleh staf-stafnya yang
mungkin berusaha mendesakkan opini, kepentingan, atau ideologinya.
Cerita seperti ini terbukti bukan hanya
pada KAA kemarin, tetapi sejak dulu hingga di masa kampanye.Berbagai
rekomendasi, usulan, ajuan, bahkan acuan yang dibuat oleh tim sukses
Jokowi-JK bisa saja sekonyong berhenti di kertas atau bibir ketika
Jokowi justru beraksi dengan cara, gaya, bahkan pelisanannya yang
personal. Sangat personal. Tentu saja ini bisa dicek kembali pada para
anggota tim sukses.
Dalam kenyataannya, hingga sekitar
setahun masa pemerintahannya, kita mendengar dan menjadi saksi bagaimana
para staf atau pembantunya, hingga pejabat lembaga-lembaga negara,
mengeluarkan pernyataan juga kebijakan yang tidak selaras bahkan
bertentangan dengan arahan atau perintah atasannya, sang Presiden. Semua
hal itu memberi kita bukti, setidaknya indikasi, bagaimana Jokowi dan
kuasa rakyatnya ternyata dikepung oleh ambisi, intensi, interes, hingga
ancaman dari banyak pihak yang ada di sekitarnya, baik yang ada di luar
kantor (negeri) hingga yang bersembunyi di balik pintu ruang kerja atau
laci mejanya.
Dalam banyak pemberitaan mutakhir kita
dapat menengarai bagaimana, misalnya, beberapa pernyataan, keluhan
tentang kesulitan untuk bisa berkomunikasi dengan Presiden. Maksud im
plisitnya, mereka mengalami kesulitan untuk mendesakkan pendapat,
kehendak, aspirasi, intensi, atau interes kelompok masingmasing.
Sebaliknya, justru Jokowi kelihatan
mendekat dengan para penentangnya, kaum oposan dari koalisi KMP. Dalam
psikologi komunikasi atau budaya politik, situasi itu memberi kita
eksposisi tentang fleksibilitas diplomasi atau negosiasi yang ternyata
jauh lebih keras atau kenyal dengan para pendukungnya sendiri
ketimbang–justru-dengan lawan-lawannya. Apa yang terjadi dan bermain di
balik ini, tentu saja Anda dapat memperkirakannya sendiri. Tekanan
internal tidak hanya datang dari kubu lawan, tapi justru lebih keras
dari kubunya sendiri.Dari staf atau bawahannya sendiri.
Menjernihkan diri
Di titik itulah, kita pun terbawa oleh
permainan opini oleh kelompok penekan itu. Setidaknya untuk mendapatkan
kesan bahwa setahun pemerintahan Jokowi menciptakan lebih banyak
kegagalan ketimbang kesuksesan, keruwetan dalam hubungan antara lembaga,
kekeruhan dalam visi hingga cara kerjanya (bahkan blusukan yang dulu
dipuji kini pun menjadi caci maki).
Hampir umumnya pengamat tidak mampu
melucuti diri atau membersihkan pikiran dan interes pribadi sekurangnya,
dari kelindan pikiran, opini atau retorika ‘kebenaran’ yang dimainkan
oleh kelompok penekan itu, baik dalam mimbar seminar, diskusi di
kafe-kafe, maupun infotainment dan media sosial. Katakanlah, sebagai
misal, pengurangan subsidi BBM yang gigantik dan hanya menguntungkan
kelas menengah-atas itu, kini menjadi satu peluru tajam untuk menyerang
Jokowi dari janjinya untuk berpihak pada rakyat, ketika konsekuensi
pengurangan subsidi itu secara logis menaikkan harga BBM, termasuk
listrik, gas, dan sebagainya.
Ada semacam kecenderungan di kalangan
pemikir, akademisi, atau pengamat (dengan latar alasan beragam)
memosisikan diri berlawanan secara konfliktual–bahkan seperti
beroposisi–hanya untuk mengimpresikan posisi intelektualnya yang kritis,
bebas, independen, atau sekadar mencari efek selebratikal (popular).
Satu kecenderungan yang memiliki risiko
justru kian kacaunya cara berpikir kita sehingga ketika melihat danau
jernih ia menjadi keruh karena justru buteknya pikiran kita sendiri.
Situasi ini dapat dilihat dalam berbagai
isu yang belakangan menjadi semacam trending topic seperti masalah:
hukuman mati, penenggelaman bajak ikan asing, tol laut, poros maritim,
kriminalisasi dalam relasi KPK-Polri, penggantian Kapolri-Wakapolri,
polemik Kantor Kepresidenan, hingga utang LNRI, dan seterusnya. Apa yang
semestinya, menjadi rumit, bahkan keruh ketika dengan retorika politis
`murahan’ diputar balik logikanya dengan apa yang tidak semestinya.
Di sini kita paham, politik modern,
posmodern, atau demokratis–apalah sebutan itu semua–sama sekali tidak
bekerja untuk menjernihkan persoalan, menciptakan transparansi, apalagi
mempraksiskan apa yang disebut dengan `edukasi politik’ bagi rakyat
semesta.
Namun, tentu saja sebagian orang boleh
menyela, demikianlah memang nasib sebuah kekuasaan, seorang Presiden
dalam lingkungan hidup politik yang telengas dan hampir tanpa adab ini.
Itulah dinamika politik, lebih jauh, itulah romantika demokrasi.
Hmm…sebuah excuse yang tampak arif dan hampir cerdas walau sesungguhnya
manipulatif. Menerima satu keadaan yang bias, deviatif, bahkan keliru
sebagai satu kenyataan yang taken for granted bahkan given.
Tidak. Kita tidak bisa, bahkan tidak selayaknya, menerima itu begitu saja.Apa
benar semua kenyataan itu given alias undeniable reality, kenyataan tak
terhindar dari zaman mutakhir ini? Benarkah demikian? Bagaimana jika
dia tidak for granted tapi justru by design alias
sebagian pihak justru menghendaki dan dapat mengambil profit dari
kekeruhan itu? Apa k i t aberdiam diri bila ke mungkinan itu ternyata m e
m a n g (sekurang nya sebagian) nyata?
Ancaman mutan imperialisme
Tentu saja tidak. Dari postulasi logis ini, kita bisa bersikap sebagai bagian dari kerja intelektual (mind-set) kita, untuk sekurangnya bekerja dengan semua kemungkinan di atas. Mengantisipasi posibilitas negatif ataupun positifnya.Satu
sikap yang konstruktif setidaknya untuk menggiring kita untuk
mengenali, mendapatkan data primer, dan memahami dengan lebih baik dalam
jarak (distance); menciptakan kejernihan dalam akal kita, yang
hanya berbasis pada data dan fakta yang akurat, adekuat dan terukur,
bukan berbasis gosip, isu, atau trending topic apalagi sekadar cicitan
burung-burung liar.
Dalam prosesus intelektual dan mental
itu, tidak lain, sebagai seorang pemikir yang hendak mencapai kualitas
ultimnya sebagai arif dan bijaksana, tidak cukup dibutuhkan kecerdasan
dan data saja, tapi juga kesabaran. Data dan bukti tidak serta-merta
hadir di depan mata kita. Kadang ia datang bersama jalannya waktu alias
dari nasib. Tak dapat satu manusia pun memaksakan terang mata fisik dan
batinnya karena dibukakan kenyataan (faktual yang senyatanya), tanpa
melibatkan waktu atau proses di dalamnya.
Kalaupun data atau kenyataan faktual itu
hadir di mata fisik dan batin kita, seorang pemikir (yang modern itu!)
masih membutuhkan waktu lagi untuk mengomprehensi hingga
mentransendensinya hingga menjadi makna atau hikmah. Maka sebuah
kearifan atau kebijaksanaanlah yang kemudian mengekspresikan diri
(opininya) melalui proses (waktu) yang tidak sementara itu. Akan tetapi,
di mana (orang) arif dan bijaksana itu? Adakah di kalangan kita, para
pemikir kita?
Saya tidak tengah membela pemerintah
sekarang, Jokowi, apalagi dengan membabi buta. Namun, saya hanya
mengingatkan persoalan bangsa dan negara ini begitu kompleks saat ini,
ketika bumi sudah terkoneksi sedemikian rupa, sehingga harga cabai di
Panarukan turut ditentukan oleh serangan skuadron F-16 Arab Saudi ke
Yaman. Banyak tantangan dan hambatan yang menyulitkan kita menyiapkan
negeri yang memberi kemudahan, setidaknya ruang dan peluang yang cukup
terbuka bagi generasi masa depan, anak cucu kita, bertarung menghadapi
adab dan zaman yang kian keras dan telengas.
Tak dapat kita menuntut kemudahan apalagi
kenikmatan ketika kita mengerti betapa ancaman mengerikan (dalam
konstelasi geopolitik, geoekonomi dan sebagainya hingga soal iklim dan
lingkungan) telah menghadang keturunan keturunan kita.
Tak ada tempatnya kita menagih hasil
kemerdekaan yang diperjuangkan dengan keringat, darah, dan air mata
pendahulu kita untuk kita nikmati apalagi dengan cara yang hedon. Kita
masih berjuang, setidaknya untuk mengisi kemerdekaan itu sebagai
dititipkan pada founding fathers-mothers kita.
Kita masih berjuang, dengan sifat,
bentuk, dan esensi yang sama dengan 70 tahun atau 100 tahun lalu bangsa
ini. Karena siapa yang tidak tahu, kolonialisme juga imperialisme tidak
pernah mati.
Ia hidup bukan sebagai zombi tapi sebagai
kuman yang membelah diri, bahkan men jadi mutan yang lebih sakti,
tegas, telengas, walau se perti renik ia sembu nyi. Dalam hati, da lam
pikiran, bahkan dalam dunia spiritual kita.
Apakah ini omong kosong? Anda akan melihat buktinya, nanti.
-
Anda dan 16 lainnya menyukai ini.
-
Ezki Suyanto Setuju….makasih Mbak Elin Driana bagus banget…
-
Diah Wihardini Wow… beda ya kl (I assume he is an) anthropologist yg nulis, very philosophical
-
Elin Driana Bbrp bagian yang menohok:“Tak dapat kita menuntut ke mudahan apalagi kenikmatan ketika kita mengerti betapa an caman mengerikan (dalam konstelasi geopolitik, geoekonomi dan sebagainya hingga soal iklim dan lingkungan) telah menghadang keturunan keturunan kita.”“Tak ada tempatnya kita menagih hasil kemerdekaan yang diperjuangkan dengan keringat, darah, dan air mata pendahulu kita untuk kita nikmati apalagi dengan cara yang hedon. Kita masih berjuang, setidaknya untuk mengisi kemerdekaan itu sebagai dititipkan pada founding fathers mothers kita”.
-
Nunu R. Nugraha Bacaan yang segar dan konstruktif!
-
Agus Kurniawan Saya masih ingat ketika Pak Radhar Tribaskoro pada masa kampanye tidak menyukai -bahkan secara personal – JKW, lawan dari yang didukung Pak Radhar. Tapi pada tulisan ini agak berubah. Saya tidak tahu ini perubahan sikap atau sekedar ide tulisan
-






Tidak ada komentar:
Posting Komentar