Rabu, 10 Juni 2015

ki suryo

Ilmu Bahagia Menurut Ki Ageng Suryomentaraman
Tebal: x + 158 halaman
Penerbit: Kepi, Cetakan 1, Oktober 2012
Penulis: Afthonul Afif
Suryomentaraman-200x300Nama Ki Ageng Suryomentaraman mungkin tidak populer di kalangan orang Jawa maupun di tanah kelahirannya Yogyakarta. Ia adalah penemu dan pengajar ilmu pengetahuan tentang jiwa manusia, yang ia namai Kawruh Jiwa.
Ki Ageng Suryomentaraman lahir pada 20 Mei 1892 di Kraton Yogyakarta, anak ke 55 dari 79 anak Sultan Hamengku Buwono VII. Ibunya, B.R. A. Retnomandoyo, anak perempuan patih Danurejo VI, adalah istri golongan kedua (garwo ampeyan) Sultan.
Ia menolak gelar pangeran dari sang Ayah, saat ia berusia 18 tahun. Ibunya diceraikan Sultan. Istrinya meninggal dunia tepat setelah melahirkan putra. Dipicu oleh kegalauan batin serta keingintahuannya yang besar terhadap masalah kejiwaan dan kebahagiaan, Ki Ageng memilih menanggalkan status kepangerannya beserta semua fasilitas kemewahan yang ia miliki. Namun ia baru bisa meninggalkan kraton saat ayahnya turun tahta.
Ia memilih meninggalkan kraton. Ki Ageng berpindah menuju desa Bringin, Salatiga. Di sana ia berniat untuk mencari hakekat hidup, mengamati dan meneliti perjalanan serta pengalaman hidupnya sendiri. Ia mengembangkan pengetahuan mengenai jiwa manusia yang kemudian melahirkan ilmu yang ia namakan Kawruh Jiwa, ilmu atau pengetahuan tentang jiwa manusia.
Frasa kawruh jiwa perlu digarisbawahi. Kawruh yang berarti ilmu pengetahuan ini ia gunakan untuk membedakannya dari irasionalitas. Dalam buku ini, Afif ingin meluruskan Kawruh Jiwa bukan ilmu kejawen atau kebatinan. Kawruh jiwa  memiliki basis material dan metode yang jelas, disajikan dengan sistematis dan logis. Secara fungsional, pengetahuan ini dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan hidup sehari-hari. Aspek ilmiah dari ajaran ki Ageng inilah yang jarang dibahas dalam perbincangan mengenai beliau. Buku berjudul “Ilmu Bahagia menurut Ki Ageng Suryomentaraman” berusaha memenuhi kekosongan kajian tersebut dengan menekankan aspek logika keilmuan dari ajaran ini. Si penulis,  Afthonul Afif, pun lebih jauh menyatakan Kawruh Jiwa secara metode hampir seperti psikoanalisis Freud.
Saya tertarik membaca buku ini karena judulnya yang unik. Biasanya buku yang membawa kata ‘kebahagiaan’ adalah buku motivasi picisan, kisah sukses, dan sebagainya. Anehnya, di belakangnya dibubuhi keterangan menurut Ki Ageng Suryomentaraman. Nah, ini resep bahagia yang berbeda, pikir saya.
Bagi Ki Ageng, ilmu pengetahuan itu bukan pelajaran kebatinan, bukan pula pelajaran budi pekerti yang mengatur bagaimana cara berperilaku dengan baik dan benar. Namun ilmu pengetahuan adalah sistematika penalaran yang mampu mengarahkan orang untuk berpikir rasional, maupun memilah-milah segala persoalan ke dalam kategori-kategori yang benar. Proses inilah yang melahirkan kejernihan pikir dan keteraturan tindakan (hlm.9).
Dalam hal menalar apa yang diketahui dan dirasakan manusia, misalnya, Ki Ageng menjelaskan kecenderungan-kecenderungan dasar manusia. Uraian tentang hal ini dimaksudkan agar seseorang memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri dengan jelas. Sebab pengetahuan tentang diri sendiri inilah yang lebih susah diketahui, dan seringkali samar daripada pengetahuan mengenai objek di luar diri manusia.
Ki Ageng mengajukan beberapa rumusan kecenderungan dasar manusia. Kecenderungan yang pertama adalah manusia sebagai makhluk pencatat. Segala kejadian yang dialaminya akan tercatat dalam ingatan. Namun karena manusia adalah makhluk yang juga memiliki keinginan, catatan tersebut dikategorisasikan oleh keinginan. Keinginan inilah yang seringkali bersifat obsesif yang nantinya akan menghilangkan kebahagiaan manusia itu sendiri. Ki Ageng merangkum keinginan yang cenderung obsesif itu ke dalam tiga hal :  semat (jabatan), drajat (kehormatan), dan kramat (kekuasaan). Inilah yang beliau sebut dengan Kramadangsa.
Selain mencatat apa saja yang ia temui, manusia juga memberikan tanggapan terhadap hal itu. Misalnya, ketika manusia menghadapi makanan kecenderungan yang pertama hanya akan mengatakan bahwa itu makanan. Namun, manusia juga menanggapi keberadaan makanan tersebut. Tanggapan tersebut, menurut Kawruh Jiwa, secara sederhana terbagi menjadi suka dan benci.  Jika makanan itu enak, kecenderungan ini akan menyatakan perasaan suka. Jika tidak, maka ia akan menolak.
Kecenderungan terakhir yang agak tersamar adalah kemampuan menggagas. Manusia cenderung memiliki ide, gagasan, atau konstruksi terhadap segala hal. Misalnya, tentang miskin dan kaya. Kemisikinan dihindari karena ia merupakan perwakilan dari kesengsaraan, kesedihan, dan kekurangan. Kemiskinan diidentikkan dengan ketidakbahagiaan. Sementara itu, kekayaan bermakna sebaliknya. Manusia jarang memikirkan gagasannya ini kembali. Apakah tidak mungkin orang yang miskin merasa bahagia?
Dalam titik inilah, kemampuan manusia untuk mengetahui bedanya fakta murni dan fakta yang telah bercampur gagasan diuji. Ki Ageng membahasakannya sebagai kemampuan untuk mawas diri. Mawas diri berarti mengambil jarak dari diri sendiri, dan melihat secara jernih apa yang ada dalam pikiran dan perasaan. Manusia dalam dimensi ini lah yang akan bisa menggapai kebahagiaan, menurut Ki Suryomentaraman. Bagi orang yang melihat secara jernih, apa yang disukai dan dibenci sebetulnya tidaklah abadi. Ia selalu berganti, sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Kenyataan hanya perlu diterima, tidak ditolak. Jadi bahagia atau celaka itu persoalan menerima atau menolak kondisi kita sekarang ini dan di sini.
Buku ini memang kaya dengan ilustrasi dan deskripsi. Bahkan disajikan pula bagan tentang kradamangsa dan dimensi-dimensi manusia. Penjelasan mengenai sebuah konsep pun lumayan panjang dan jernih. Namun, sebagai buku yang dimaksudkan untuk menguraikan sistematika ilmu pengetahuan (kawruh) menurut saya buku ini kurang tertata rapi dari segi tata letak. Selain penting bagi mereka yang ingin menggali khazanah pemikiran budaya Jawa, bagi saya,buku ini pun sangat penting untuk dibaca mereka yang terlalu banyak  menimba deskripsi kebahagiaan dalam buku-buku motivasi kacangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar