Mencoba memahami ATN dan AK
Menurut cerita Ki Harsono, saat dia masih bersekolah, hidup bersama dengan KAS, suatu kali ketika akan berangkat sekolah, dipanggil oleh KAS, dan diminta untuk memegang ‘aku’. Kira-kira berikut ini dialog antara KAS dan Ki Harsono
- KAS: Har, peganglah aku!, nanti aku beri uang jajan…
- Ki Harsono: memegang tangan KAS
- KAS: itu tanganku…
- Ki Harsono: kemudian memegang kepala KAS
- KAS: itu kepalaku…
- Ki Harsono: kemudian memeluk KAS
- KAS: itu badanku…
- Ki Harsono: kemudian menutup mulut KAS, (karena berpikir yang bilang ‘aku’ adalah mulut KAS)
- KAS: itu mulutku…
- Ki Harsono: ??????
- KAS: ya sudah, sana berangkat sekolah.
- Ki Harsono kemudian berangkat ke sekolah dengan tanpa mengerti apa maksud KAS tentang ‘aku’.
Lalu, apa yang dimaksud ‘aku’ menurut KAS?
Mungkin, untuk memudahkan memahami ATN dan AK, dapat digunakan kata-kata ‘aku’, ‘diriku’ dan ‘saya’,
- Aku mewakili ATN
- Diriku mewakili AK
- Saya mewakili ATN + AK
Ketika perut lapar, dan akan segera pergi ke warung makan, maka aku tahu bahwa perutku lapar dan diriku ingin segera ke warung makan. Saat ini saya berencana, bahwa bulan depan akan ke Jakarta, maka aku yang tahu bahwa diriku akan pergi ke Jakarta bulan depan.
Pertanyaannya,
- “Apakah aku yang tahu bahwa tangan sakit adalah diriku yang merasa sakit?”
- “Apakah aku yang tahu bahwa perut lapar, dan berencana pergi kewarung makan sama dengan diriku yang perutnya lapar dan berencana pergi ke warung?”
- Apakah aku yang tahu bahwa saya sedang jatuh cinta sama dengan diriku yang sedang jatuh cinta?
Peran aku hanyalah mengamati, melihat, mengetahui apa saja yang dilakukan, dirasakan, aialami diriku, karena itu oleh KAS aku ini disebut sebagai aku pengamat/pelihat (aku tukang nyawang /ATN– aku yang pekerjaannya melihat)
Memahami dan menyadari adanya ATN yang selalu melihat diriku, akan menolong orang untuk selalu memiliki ‘pangawikan pribadi’ (pengendalian diri) karena setiap rasa, sikap dan tindakan selalu ada yang mengawasi (yaitu ATN) dan kehadiran pengawas ini selalu disadari, karena ATN itu bersama-sama dengan diriku (AK) ada dalam “saya”.
Paling tidak ini dialami oleh para Pelajar Kawruh Jiwa, yang mengalami perubahan diri ke arah yang lebih baik, dengan memahami posisi ATN dan AK ini. Antara lain, (contoh praktis) yang sering marah-marah, menjadi lebih sabar, jarang bahkan tidak pernah marah-marah lagi, karena ketika akan marah langsung sadar bahwa ada ‘aku’ yang tahu bahwa diriku akan marah, dan teredamlah rasa marah yang terpendam itu.
Konsep mengenai ATN dan AK adalah konsep yang mendasari dari seluruh ajaran KAS yang lain, untuk menuju menjadi orang yang memiliki ‘pangawikan pribadi’ (pengendalian diri), menjadi orang yang memiliki ‘tirai baja’ (kere waja) ketika menghadapi cobaan-cobaan hidup, dan menjadi pribadi tanpa belenggu atribut-atribut personal/sosial (‘pribadi tanpa ciri’ – ‘mandireng pribadi’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar