BAT AL-HIKMAH INSTITUTE,
Pusat Kajian dan Pengembangan Filsafat Islam, Tasawuf, Sains dan Peradaban
(Research and Development Center for Islamic Philosophy, Islamic Mysticism, Science & Civilization)
LATARBELAKANG PEMIKIRAN
1.Runtuhnya Tradisi Filsafat dalam Islam
Satu masa dalam hidupnya, Abu Hamid al-Ghazali (w. 505/1111) merasa perlu untuk menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (naqli) karena adanya ancaman yang membahayakan ilmu-ilmu tersebut dari ilmu-ilmu rasional (‘aqli). Sebenarnya gerakan anti ilmu-ilmu rasional telah dimulai kira-kira dua abad sebelum al-Ghazali oleh Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324/935) terhadap aliran teologis rasional Mu’tazilah. Meskipun gerakan tersebut telah berhasil menggoyah kedudukan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi kekhalifaan saat itu, namun rupanya belum berhasil meredam gerakan rasional filosofis, terbukti dengan munculnya dua filosof yang lebih besar daripada yang sudah ada, al-Farabi (w.339/950) yang dikenal sebagai “al-Mu’allim al-Tsani,” dan Ibn Sina (w. 430/ 1038), “Syaikh al-Rais,” yang menandai puncak perkembangan filsafat Neoplatonik Muslim atau dikenal juga sebagai “peripatetik.”
Sebagai pengikut, bahkan salah seorang tokoh utama Asy’ariyah, tentu saja al-Ghazali merasa terpanggil untuk meneruskan perjuangan pendiri mazhabnya dalam menghadapi atau melawan dominasi ilmu-ilmu rasional. Hanya saja tantangan yang dihadapi al-Ghazali jauh lebih berat, karena yang ia hadapi bukan hanya sekedar sebuah sistem teologis yang didasarkan pada metode dialektis (jadali), melainkan sebuah sistem filsafat yang lebih solid karena didasarkan pada metode demonstrati (burhan).
Meskipun begitu, dengan kejeniusan dan kesungguhan serta cara yang sangat metodik, al-Ghazali berhasil menjawab tantangan itu dengan baik. Kecermatan metodologisnya terlihat misalnya dalam ungkapannya: “Janganlah anda mengeritik sesuatu (dalam hal ini filsafat) sebelum menguasai betul hal tersebut, bahkan kalau bisa anda mengungguli ahli-ahlinya.” Selama kurang lebih dua tahun, al-Ghazali mengabdikan dirinya untuk mempelajari filsafat secara sistematik, dengan tujuan untuk mengkritiknya. Ternyata ia betul-betul menguasainya. Hasil penelitiannya itu ia abadikan dalam karyanya, Maqasid al-Falsifah. Setelah ia menganggap dirinya menguasai filsafat, barulah ia melancarkan kritiknya yang tajam dan jitu terhadap ajaran-ajaran para filosof dalam karyanya yang lebih dikenal Tahafut al-Falasifah.
Kritiknya terhadap filsafat ternyata sangat efektif. Peringatannya kepada kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap beberapa ajaran (proposisi) para filosof dan pengkafirannya terhadap mereka dan pengikut-pengikut mereka yang percaya pada keabadian alam, ketidak-tahuan Tuhan pada juz’iyyat dan penolakan mereka terhadap kebangkitan jasmani, ternyata sangat sangat efektif dalam membangkitkan antipati umat bahkan permusuhan terhadap filsafat dan ilmu-imu rasional lainnya yang terkait, seperti fisika, psikologi, matematika, astronomi dan sebagainya. Dikatakan efektif karena setelah serangan itu filsafat tidak pernah dilihat, terutama di dunia Sunni, kecuali dengan rasa curiga. Bahkan di beberapa tempat pengkajian filsafat secara resmi dilarang, dan banyak karya-karya utama filosofis dibakar dan dihancurkan. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kritik al-Ghazali terhadap filsafat memang sangat efektif dan “telak,” sehingga di belahan dunia Sunni –di mana pengaruh al-Ghazali adalah terbesar– filsafat tidak pernah bisa bangkit hingga saat ini.
Dengan demikian, usaha al-Ghazali dalam menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama –setelah mengeritik filsafat– sangat berhasil. Dengan usahanya itu ia mampu mengangkat derajat ilmu-ilmu agama ke jenjang yang sangat tinggi, bahkan barangkali tertinggi. Di dunia Sunni ia sangat dikagumi dan mendapat gelar “hujjat al-Islam” karena keberhasilannya itu. Akibatnya, kini “titik tekan” ilmu telah bergulir dari ilmu-ilmu rasional ke ilmu-ilmu agama. Sehubungan dengan itu, ia menegaskan bahwa mempelajari ilmu-ilmu agama adalah fardlu ain, sedangkan ilmu-ilmu rasional, fardlu kifayah, artinya tidak wajib bagi setiap Muslim. Tapi sayang, keberhasilan al-Ghazali dalam mengangkat derajat ilmu-ilmu agama ini harus ditebus dengan harga mahal, yaitu sirnanya disiplin ilmu filsafat dan cabang-cabangnya, dan kemudian dengan melemahnya tradisi keilmuan rasional yang menyertainya.
2. Tantangan-tantangan Filosofis Kontemporer
Dibanding dengan tantangan filosofis yang dihadapi al-Ghazali sekitar seribu tahun yang lalu, tantangan-tantangan filosofis yang dihadapi kaum muslimin saat ini jauh lebih serius dan radikal, karena sementara tantangan yang dihadapi al-Ghazali muncul dari para filosof yang masih percaya teguh pada yang ghaib (realitas-realitas metafisik), tantangan-tantangan filosofis yang dihadapi kaum intelektual Muslim saat ini muncul dari para filosof dan ilmuwan yang telah kehilangan kepercayaannya pada hal-hal yang bersifat metafisik. Tidak cukup dengan itu, mereka juga menyebarluaskan pandangan-pandangan anti-metafisik mereka dengan cara menyerang fondasi-fondasi metafisik yang dikatakannya sebagai ilusi dan tak bermakna. Karena itu tantangan itu jauh lebih serius dan radikal. Mereka bukan lagi memberikan tafsir yang tidak ortodoks terhadap realitas metafisik, tetapi menafikannya dengan menyerang status ontologis dari dunia metafisik itu sendiri.
Tantangan filosofis yang paling berbahaya terhadap dunia metafisik adalah yang ditimbulkan oleh “positivisme.” Menurut pandangan positivis, satu-satunya wujud yang real adalah yang positif yakni yang bisa diobservasi melalui indera. Segala wujud yang berada di balik dunia fisik (metafisik) hanyalah hasil spekulasi pikiran manusia yang tidak memiliki realitas ontologis di luar kesadaran manusia. Konsep-konsep agama mengenai Tuhan, hari akhir, malaikat dan wujud-wujud ghaib lainnya dianggap tak lain daripada kreasi manusia ketika mereka berada pada awal tahap perkembangannya. Pada tahap berikutnya, manusia memperbaiki konsep-konsep keagamaan dengan mengembangkan sistem-sistem filosofis yang rasional. Namun pendirian yang terakhirpun, menurut mereka, masih berdasar pada ilusi karena percaya pada dunia metafisik. Tahap akhir yang paling sempurna dalam perkembangan manusia tercapai pada tahap positif di mana manusia menemukan bahwa satu-satunya realitas yang sejati adalah dunia fisik yang bisa diverifikasi secara positif-obyektif. Yang mereka hasilkan bukanlah sistem kepercayaan religius, atau sistem filosofis rasional, melainkan ilmupengetahuan (sains) yang didasarkan pada observasi inderawi.
Pengaruh positivisme semakin besar –dan karenanya semakin berbahaya sebagai tantangan filosofis, teologis-religius bagi kita– karena mendapat dukungan yang luas dari para ilmuwan di berbagai bidang ilmu, seperti astronomi, biologi, psikologi dan bahkan sosiologi. Pengaruh ini terlihat misalnya dari keengganan banyak ilmuwan Barat untuk memandang entitas-entitas metafisik, seperti Tuhan atau malaikat, sebagai sebab dan sumber bagi alam semesta. Dalam pandangan mereka Tuhan telah berhenti menjadi apapun. Ia telah menjadi pencipta, pemelihara dan pengatur alam semesta. Mereka lebih suka melihat alam semesta sebagai mesin raksasa yang berjalan menurut hukum alam (the law of nature), dan menjelaskan fenomina alam sesuai dengan hukum tersebut daripada menganggap alam sebagai hasil ciptaan Tuhan.
Pandangan-pandangan naturalis positivis seperti ini dapat dengan mudah kita temukan dalam karya-karya atau ungkapan-ungkapan ilmuwan-ilmuwan Barat yang besar dan berpengaruh seperti Pierre de Laplace, Darwin, Freud, dan Emile Durkheim. Meskipun tidak semua ilmuwan sependapat dengan pandangan mereka, tetapi pengaruh mereka dalam dunia ilmu (sains) masih sangat besar dan menentukan, mereka masih sering dianggap sebagai “Nabi-Nabi” ilmu pengetahuan. Sehingga pandangan-pandangan mereka masih sangat berarti sebagai tantangan terhadap sistem kepercayaan Islam. Pierre de Laplace (w. 1827), seorang astronomer dan matematikus Perancis, yang dikenal sebagai penemu (bersama Kant) teori “Big Bang,” tidak merasa perlu untuk menyinggungsepatahpun kata Tuhan, ketika ia menjelaskan teori penciptaan alam semesta dalam bukunya The Celestial Mechanisme. Alasannya adalah karena bagi dia Tuhan adalah hipotesa yang tidak diperlukan dalam penjelasan astronomisnya, atau dalam ungkapannya sendiri: “Je nai pas besoin de cet hypothesie.”
Demikian juga Charles Darwin (w. 1882), seorang naturalis Inggris yang terkenal dengan teori evolusinya, tidak lagi menganggap bahwa makhluk-makhluk biologis yang ada di alam semsta ini sebagai ciptaan Tuhan yang bijak, melainkan semata-mata sebagai hasil mekanisme hukum seleksi alamiah (natural selection). Dalam otobiografinya, Darwin mengatakan: “Dulu orang boleh mengatakan bahwa bukti terkuat adanya Tuhan Sang Pencipta adalah keteraturan dan harmoni pada alam. Tetapi setelah hukum seleksi alamiah ditemukan kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa engsel kerang yang indah, misalnya, harus merupakan ciptaan agen dari luar dirinya (Tuhan), seperti halnya kita mengatakan bahwa engsel pintu mestilah merupakan ciptaan seorang Tuhan.”
Pengaruh pandangan positivisme ini juga sangat kentara dalam pandangan Sigmun Freud (w. 1939), seorang dokter dan perintis psikoanalisa. Dalam bukunya The Future of an Illution, Freud memandang agama sebagai ilusi. Eric Fromm, menjelaskan bahwa “Bagi Freud agama berasal dari ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi daya-daya dari alam luar dan daya imaginatif dari dalam dirinya. Agama muncul pada tahap awal perkembangan manusia ketika ia belum lagi menggunakan akalnya untuk menghadapi daya-daya eksternal dan internal ini dan harus menekan atau mengendalikan mereka dengan bantuan dari kekuatan lain yang efektif. Jadi, alih-alih menanggulangi daya-daya tadi dengan akal, ia mengatasinya dengan “counter affects,” yakni dengan daya-daya emosional yang fungsinya adalah untuk menekan dan mengandalikan apa yang tidak sanggup ia hadapi secara rasional.” Nah, kalau agama dipandang sebagai ilusi, maka sudah barang tentu kepercayaan-kepercayaan agama terhadap yang ghaib (realitas-realitas metafisik), seperti Tuhan, malaikat, ruh dan hari akhir, dengan sendirinya juga ilusi. Hal seperti itu jugalah yang menjadi pandangan Emile Durkheim (w. 1917), seorang fiolosof dan sosiolog Perancis. Dalam karya-karyanya ia memandang agama sebagai proyeksi nilai-nilai sosial, sedangkan Tuhan tidak lain daripada Masyarakat (Society) itu sendiri, dan bukan sebuah entitas metafisika yang personal, seperti yang kita yakini.
Serangan terhadap metafisika juga akan berdampak pada sistem epistimilogi Islam, terutama dalam kaitannya dengan sumber ilmu pengetahuan. Dengan ditolaknya dunia metafisik, maka satu-satunya sumber dari ilmu pengatahuan bagi kaum positivis adalah pengalaman, atau dengan kata lain indera. Mereka tidak percaya pada sumber lain, yang menempati posisi penting dalam epistemologi Islam, yaitu akal, intuisi dan wahyu. Laplace pernah mengatakan: “I mistrust anything but the direct result of observation and calculation.” Jadi dengan begitu mereka tidak mempercayai wahyu dan juga “pengalaman mistik” sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan. Padahal dalam tradisi epistimologi Islam, ketiga sumber ilmu pengetahuan tersebut yang oleh Mulla Shadra (w. 1050/1640), seorang filosof besar Muslim abad ketujuh belas, disebut masing-masing sebagai “burhan, irfan dan Qur’an,” diakui sebagai sumber-sumber ilmu yang sah sebagaimana hanya indera.
Kaum positivis, karena itu, hanya mengakui indera (melalui observasi) sebagai satu-satunya sumber ilmu yang sah dan dapat dipercaya. Sumber-sumber ilmu pengetahuanyang lain, seperti wahyu dan intuisi, tidak dapat dipercaya karena tidak berpijak pada realitas tapi pada ilusi manusia. Alasan mereka mengatakan begitu adalah karena wahyu dan pengalaman mistik selalu mengandaikan adanya hubungan yang erat dengan dunia metafisik, sehingga validitasnya tergantung pada status eksisitensi (ontologis) dunia metafisik itu sendiri. Sekali eksistensi dunia metafisk ditolak, maka validitas sumber-sumber ilmu yang bergantung padanya akan tertolak dengan sendirinya. Karena wahyu dan pengalaman mistik memang begitu sifatnya, maka validitas mereka hanya bisa dipertahankan apabila kita mengafirmasi status ontologis realitas-realitas metafisik tersebut. Sekali realitas-realitas itu ditolak keberadaannya, maka kemungkinan wahyu danpengalaman mistik yang disandarkan padanya dengan sendirinya tertolak dan tidak punya pijakan logisnya. Padahal kita tahu apa yang akan terjadi kalau wahyu (dalam hal ini al-Qur’an) ditolak sebagai sumber ilmu yang sah, maka seluruh sistem kepercayaan, teologis, dan mistiko-filosofis Islam akan runtuh. Inilah menurut saya tantangan filosofis kontemporer yang amat serius dari pemikiran positivis Barat terhadap sistem epistimologi Islam, terhadap mana kita sebagai kaum intelektual Muslim “wajib” memberikan respons filosofis yang sebanding, bahkan lebih baik dan meyakinkan daripada argumen-argumen mereka.
Tantangan
lain yang terkait dengan serangan kaum positivis terhadap metafisika
berdampak pula pada bangunan etika Islam, baik yang religius maupun
filosofis, tentu saja disandarkan sampai taraf tertentu pada
perintah-perintah Tuhan. Namun, ketika eksisitensi Tuhan sendiri sebagai
salah satu entitas metafisik ditolak,maka etika Islam akan kehilangan
dasar pijakannya. Freud pernah mengatakan “Jika validitas norma-norma
etika bersandar pada perintah-perintah Tuhan, maka masa depan etika akan
berdiri atau jatuh bersama-sama dengan kepercayaan pada Tuhan. Dan
karena Freud menganggap bahwa kepercayaan agama sedang memudar, maka ia
terdesak untuk berpendapat bahwa mempertahankan hubungan agama dengan
etika akan membawa kehancuran pada nilai-niali moral itu sendiri.
Karena
itu, satu-satunya sistem etika yang mereka akui adalah sistem etika
humanis yang bersandar semata-mata pada ilmu pengetahuan dan
kebijaksanaan manusia belaka, bukan pada sumber-sumber lain yang
transenden. Bagi mereka, apa yang disebut wahyu tidak lain daripada
hasil pemikiran manusia (dalam hal ini Nabi) belaka, dan bukan sebagai
pancaran dari alam ilahi yang mereka tolak eksistensinya. Akibatnya,
nilai-nilai apapun yang terdapat dalam wahyu tersebut dipandang tidak
mutlak dan tidak bisa berlaku sepanjang masa, sebagaimana yang diyakini
para pemeluknya. Wahyu bagi mereka tidak ubahnya seperti pemikiran
manusia lainnya dan karena itu bersifat relatif dan tunduk pada
perubahan ruang dan waktu, dan karena itu bisa diubah atau diganti
apabila tuntutan zaman menghendakinya. Inilah pandangan kaum positivis
tentang nilai-nilai etis skriptual, yang seperti halnya karya-karya
filsafat biasa, rentan terhadap perubahandan bahkan koreksi total.
Kritik
yang sama juga mereka arahkan pada pengalaman mistik dan validitasnya
sebagai bias etika. Kaum positivis sering menganggap pengalaman mistik
sebagai halusinasi seseorang. Bahkan hal tersebut juga mereka alamatkan
bagi validitas pengalaman intelektual yang mendukung realitas-realitas
metafisik. Dan semua ini mereka lakukan karena mereka telah kehilangan
kepercayaan pada alam metafisik. Bagi mereka satu-satunya basis yang
dapat dipercaya untuk etika adalah ilmu pengetahuan yang didasarkan pada
pengalaman yang cermat terhadap alam. Freud menginginkan supaya etika
tidak didasarkaaan pada kepercayaan agama yang bersifat “illusory,”
tetapi pendayagunaan akal pikiran manusia.
Inilah
di antara tantangan-tantangan filosofis yang dihadapi kaum intelektual
Muslim dewasa ini, suatu tantangan yang –kalau kita renungkan–jauh lebih
radikal dan serius dibanding dengan tantangan-tantangan yang dihadapi
oleh kaum intelektual muslim pada masa al-Ghazali. Karena demikian sifat
dasar tantangan tersebut, maka kewajiban kita selaku kaum cendikiawan
untuk berusaha menjawab tantangan-tantangan tersebut dengan baik, yang
antara lain bisa dibantu dengan menghidupkan kembali ilmu-ilmu rasional
yang telah menghias khazanah klasik Muslim sekian lama tetapi yang kini
telah diabaikan bagai benda-benda yang tak berguna.
3. Reformasi, Mau Kemana?
Gerakan Reformasi di
Indonesia, yang genap sudah berjalan 8 tahun, bagi sebagian orang,
dianggap masih terseok-seok di pinggir jalan sejarah Indonesia
kontemporer. Alih-alih berhasil mewujudkan tujuan-tujuan mulianya,
gerakan tersebut mulai kehilangan arah dan meninggalkan tumpukan krisis
yang tak terpecahkan dan ditemukan penyelesaiannya secara efektif.
Reformasi
memang sedikit ‘berhasil’ dalam membuka keran kebebasan
(‘liberalisasi’) dalam bidang ‘politik formal’, informasi dan budaya.
Namun di balik kebebasan itu malah lahir berbagai kekacauan dan
manipulasi suara rakyat, kemiskinan baru yang makin meluas dan
kebingungan rakyat serta desentralisasi hegemoni kapitalis,
penindasan-penindasan dan kezaliman baru atas nama demokrasi, otonomi
daerah dan liberalisasi ekonomi.
Sudah
mulai banyak orang kecewa dan tak percaya bahwa gerakan reformasi akan
berhasil membawa perubahan sosial-politik-ekonomi & budaya yang
signifikan dan bermakna bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara di Indonesia. Akhirnya, melihat proses pemilu legislatif dan
pemilihan presiden 2004, dan konflik-konflik akibat kekerasan aparat
polisi dan oknum militer dan pihak asing yang doyan mengadudomba dan
menumpahkan darah rakyat, mulai ada tokoh-tokoh intelektual dan mantan
para aktifis reformasi yang mulai melirik atau memprediksi kemungkinan
terjadinya revolusi sosial di Indonesia.
Kemungkinan
terjadi revolusi sosial itu pun, sekiranya itu adalah keharusan
sejarah, masih dalam tanda tanya besar? Apakah revolusi hanya akan
“memakan anaknya sendiri”, dan menghasilkan chaos yang lebih dahsyat
tanpa hasil yang baik? Ataukah akan menghasilkan perbaikan total dan
menyeluruh atas segala krisis bangsa dan negara ini?
Reformasi
atau revolusi? Keduanya tak akan berarti apa-apa dan membawa kebaikan
pada kemanusiaan, tanpa didasari dan digerakkan oleh perubahan pemikiran
filsafat & ideologi (pandangan dunia) yang benar. Pemikiran yang
dengan serius mengkaji apa saja akar penyebab utama dari segala krisis
yang ada, dan menawarkan solusi yang tepat (efektif) dan efisien.
Krisis
multidimensional di negeri ini adalah sebuah realitas. Salah satu akar
penyebabnya adalah ketidakmampuan kita untuk menangkap substansi suatu
persoalan. Betapa banyak perdebatan ilmiah, ekonomi, politik dan budaya,
hanya mampu mengupas kulit-kulit permukaan persoalan. Pembahasan dan
diskusi yang terjadi seringkali bersifat ‘banal’ (superfisial),
atomistik, terpilah-pilah (parsial) dan terlalu menyederhanakan masalah
(simplisistik). Perbincangan mengenai demokrasi, hak asasi manusia,
keadilan sosial-ekonomi, globalisasi dan budaya tidak jarang malah
menjadi kontra-produktif karena tidak tergalinya dan terpecahkannya
muatan-muatan filosofis yang menjadi asumsi dasar dan pengerak isu-isu
tersebut.
4. Krisis Eksitensial, Sumber Krisis Multidimensional
Enam
abad sudah manusia mencanangkan kedaulatan dirinya. Dengan berpangkal
pada rasionalitasnya, manusia (di Barat) mencari jati dirinya melalui
gerakan renaisans, antroposentrisme filsafat/pemikiran modern, reformasi
dan pencerahan (enlightmen/ Aufklarung). Dengan semboyan Sapere Aude
(beranilah befikir sendiri !) manusia berkehendak otonom dan bebas dari
segala belenggu otoritas dan tradisi (agama & budaya). Zaman Aufklarung abad ke-8 M merupakan puncak optimisme kekuatan rasionalisme sebagai pengganti iman dan pembawa obor kesejahteraan umat manusia.
Manusia
moderen memberontak terhadap cara berfikir metafisis atau teologis.
Langit suci dikoyakkan oleh intepretasi prematur kosmologi Copernican.
Pengetahuan suci transendental didesakralisasi oleh rasionalisme dan
empirisme. Pesona alam semesta dimusnahkan oleh ‘cogito’ Descartes dan
mekanika Newtonian. Agama dan gereja bersama kaum pendetanya
dikepinggirkan. Nilai-nilai moral tradisional dicampakkan. Norma-norma
agama ditunding sebagai belenggu kebebasan dan otonomi subjek.
Sejalan
dengan perkembangan kesadaran modernitas tadi, sekularisasi seakan
menjadi tuntutan sejarah, dan kesadaran manusia modern. Sekularisasi
adalah suatu proses di mana manusia berpaling dari “dunia sana” (world beyond) dan hanya memusatkan perhatiannya pada “di sini dan saat sekarang ini”[1].
Dengan sekularisasi ini, manusia merasa bebas dari kontrol dan komitmen
nilai-nilai agama. Kesadaran sekular ini dimanifestasikan dalam
pemisahan agama dari dimensi kehidupan, terutama dalam bidang sains,
sosial, ekonomi dan politik. Agama hanya dipandang sebagai fenomena
kebudayaan dan peninggalan sejarah manusia. Agama hanya menjadi subjek
antropologi dan sejarah belaka.
Pendulum
peradaban manusia yang mengarah kepada pemberontakan manusia modern
terhadap agama terus melaju. Setelah agama, teologi dan metafisika
berhasil disingkirkan dari wacana keilmuan dan kehidupan sosial dan
kemanusian dengan menjadikannya hanya sebagai urusanindividu belaka,
pemberontakan diarahkan langsung kepada jantung keyakinan agama, yaitu
Tuhan. Feuerbach menyebutkan bahwa apa yang disebut Tuhan itu tidak lain
adalah manusia ideal yang merupakan proyeksi dari nilai-nilai harapan
manusia itu sendiri, seperti pengetahuan, kekuasaan, kemuliaan. Karena
itu, Feurbach mengusulkan untuk menghapuskan teologi dan menggantinya
dengan antropologi. Karl Marx menyebutkan Tuhan sebagai tokoh/konsep
rekaan kaum kapitalistik-borjuis untuk membius kaum proletar. Lalu
Nietzsche mendeklarasikan kematian Tuhan sebagai puncak pembebasan
kemandirian manusia.
Namun,
tak cukup sampai sampai di situ perlawanan dan pelecehan
sekularisme-ateisme terhadap agama. Kaum positifis menvonis agama
sebagai sekumpulan ilusi-khayalan tak bermakna apapun, karena tak dapat
diverifikasi secara logis dan ilmiah. Freud bahkan menyebutkan kesadaran
beragama adalah produk atau sublimasi dari dorongan-dorongan libido
seksual yang tak tersalurkan; bahwa orang-orang yang beragama adalah
orang-orang yang mengindap penyakit mental.
Jarum
sejarah terus bergerak. Abad ke-20 adalah masa menuai badai.
Psikoanalisa Freud ternyata tidak saja melecehkan agama. Di luar dugaan
dan harapan manusia modern, psikoanalisa menjatuhkan wibawa rasionalitas
dan kesadaran otonomi subjek yang dibanggakan selama ini. Freud yang
sangat terpengaruh oleh Darwinisme mengumumkan hasil risetnya, bahwa
sebagian besar perilaku manusia didorong oleh libido biologis semata,
insting-insting hewaniyah di bawah sadar; bahwa kesadaran dan rasio
manusia hanyalah berperan sedikit bagaikan puncak gunung es dalam lautan
es yang merupakan alam bawah sadar manusia. Darwinisme dan Freudisme
telah mengguncang rukun iman manusia modern terhadap kehebatan rasio.
Abad ke-20 & 21 adalah abad menuai badai. Kaum Kiri Baru (New Left)
yang dirintis oleh tokoh-tokoh Mazhab Frankfurt melengkapi kejatuhan
rasionalitas modernisme. Melalui analisis filosofis-sosiologis dan
psikoanalisis, mereka membeberkan perilaku irrasionalitas masyarakat
modern seperti sifat serakah, konsumerisme, tirani, hegemoni, fasisme,
tribalisme. Horkheimer menyebutkan bahwa kebebasan individu dewasa ini
adalah semu, sebab kebebasan itu hanya dibayangkan sedangkan
kenyataannya individu diperbudak secara tidak sadar oleh masyarakat yang
digerakan oleh kekuatan pasar dan kapital. Individu dan masyarakat
modern kapitalis-konsumeristik digerakkan oleh apa yang disebut sebagai
“kekuatan impersonal” seperti dunia iklan (advertising) dan hiburan (entertainment), dan pasar raya (mall),
dan pasar modal. Siang-malam “kekuatan impersonal” itu memukau dan
menjanjikan segala harapan. Orang modern terkesima dengan slogan-slogan
iklan dan hiburan itu, dan bersedia menyerahkan diri diperbudak oleh
“kekuatan-kekuatan impersonal” tersebut. Manusia modern telah menjadi
robot-robot dan sekrup-sekrup kecil mesin sosial yang tak mampu lagi
berfikir jernih memilih apa yang sebenarnya baik bagi dirinya,
berdasarkan kesadaran fitrahnya.
Walhasil,
proyek pembebasan manusia yang dicanangkan oleh renaisans, reformasi,
dan Aufklarung telah gagal, karena manusia moderen telah dibelenggu oleh
mitos-mitos baru, berhala-berhala baru, ilusi-ilusi baru,
tahayul-tahayul baru dan tuhan-tuhan baru.
Abad
ke-20 dan ke-21 adalah abad menuai badai. Perkembangan muthakhir ilmu
pengetahuan pun, di luar dugaan dan harapan manusia modern, telah
menggerogoti keyakinan manusia modern terhadap paham positivisme-ilmiah
yang selama ini seolah menjadi rukun iman kedua mereka. Munculnya fisika
modern dengan tercetusnya Teori Relatifitas Einstein dan Mekanika
Quantum telah merubuhkan mekanika klasik Newtonian dan paradigma
mekanistik-positifisme yang telah tiga abad dianut oleh manusia modern.[2]
Alam semesta ternyata menyimpan misteri yang tak habis-habisnya dikaji.
Muncul kesadaran pada manusia modern, terutama kaum akademisi dan
terpelajar, bahwa mereka belum mengetahui apa-apa tentang seluruh alam
semesta dan realitas; bahwa ternyata manusia dan alam semesta saling
berhubungan secara mendalam. Kesadaran ini bagi kalangan terpelajar,
memusnahkan hasrat manusia modern untuk dapat menundukan dan
mengekploitasi alam, di samping juga secara bersamaan alam pun telah
memberontak terhadap eksploitasi sewenang-wenang manusia, dalam bentuk
polusi udara, air dan tanah, memanasnya iklim dan cuaca global,
menipisnya lapisan ozon. Pada tataran teoritis, yaitu epistemology dan
kosmologi, kesadaran ini mengguncang keyakinan manusia modern terhadap
sains. Akibatnya berkembanglah gerakan skeptisisme dan nihilisme yang
tak lagi mempunyai apresiasi terhadap sains dan juga bahkan, terhadap
seluruh pengetahuan manusia. Generasi sophisme modern telah lahir
kembali. Manusia telah mundur 2500 tahun kembali kepada sophisme Yunani
klasik.
Abad
ke-20-21 adalah abad menuai badai. Sains dan teknologi yang dijadikan
tumpuan manusia modern untuk menggapai kebahagiaan ternyata berbalik
mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Telah dua kali perang dunia
besar terjadi dengan memakan korban ratusan juta manusia oleh senjata
hasil rekayasa teknologi. Berbagai senjata canggih, mulai dari senjata
kimia sampai bom nuklir, dibuat untuk membunuh banyak manusia, atau
setidaknya dipakai untuk mengancam dan menggertak negara-negara lain,
sebagaimana yang dipraktekkan oleh USA & Israel terhadap
negara-negara yang yang tidak mau tunduk kepada Amerika & Israel
yang pongah itu. Manusia modern menyaksikan bahwa perkembangan sains dan
teknologi ternyata tidak berkorelasi positif terhadap kesejahteraan
umat manusia. Sekjen PBB Kofi Annan dalam peringatan hari PBB 24 Oktober
1999 lalu menyebutkan bahwa abad ke-20 sebagai abad yang paling kelam
dan terkejam sepanjang sejarah umat manusia, abad yang paling sumpek
dengan kisah penderitaan manusia. Kaum pemikir dan intelektual
bijaksanawan mencemaskan bakal munculnya berbagai bencana kemanusiaan
dan bencana alam pada abad ke-21 mendatang. Oleh karena itu, Anthony
Giddens menyebutkan masa sekarang dicirikan dengan manufactured
uncertainity, yaitu masa yang diliputi ketidakpastian dan mengarah
kepadahigh consequence risk.[3]
Kisah
penderitaan manusia menemukan jati dirinya, belumlah berakhir. Krisis
modernisme tidak berhenti pada krisis irasionalitas dan moralitas,
krisis epistemologis, krisis ekologis dan krisis kekerasan saja.
Namun
krisis modernisme, yang juga melanda Indonesia, tidak berhenti hanya
pada krisis epistemologis dan metodologis yang demikian itu. Yang lebih
akut, justru terjadi pada tingkat ontologis berkenaan dengan krisis
eksistensial manusia yang menyangkut hakikat, tujuan dan makna
kehidupannya. Manusia modern telah terjerumus dalam krisis eksistensial,
kehampaan spiritual, krisis makna dan legitimasi missi hidupnya, serta
kehilangan visi dan terasing dari alam semesta, Tuhan dan dirinya
sendiri. Albert Camus menggambarkan bagaimana setiap upaya manusia
mencari hakikat jati dirinya selalu menemui kegagalan, sehingga sampai
sedemikiandisimpulkan bahwakehidupan ituabsurd, tidak mempunyai makna.
Menjalani kehidupan adalah bagaikan orang yang berjuang mendaki puncak
gunung tanpa harapan akanpernah sampai ke tempat tujuan.Sehingga Camus
mempertanyakan kenapa manusia yang tidak tahu dan tak punya tujuan
hidupnya masih mau hidup di dunia yang tak bermakna ini. Kenapa manusia
tidak lebih baik bunuh diri saja?
Abad
ke-20-21 adalah abad menuai badai. Setelah 6 abad manusia mencangkan
kedaulatan dirinya dan mendeklarasikan kematian Tuhan, keadaan kini
berbalik. Jarum sejarah telah mengguncang sendi-sendi keyakinan manusia
modern; rukun iman mereka tumbang. Rasionalitas, otonomi subjek,
antroposentrisme, positivisme, sains dan teknologi, kini siap-siap
menjadi puing-puing fosil peradaban. Energi telah sirna. Semangat telah
pupus. Senja peradaban manusia modern telah membayang di pelupuk mata.
Manusia modern telah mati.
Manusia telah mati? Sebagian di antara mereka lalu mewujudkan penampakan dirinya dalam perilaku sebagai Cheerful Robot,
yaitu manusia yang berusaha melarikan diri dari kegelisahan jiwa dan
kecemasan eksistensial mereka dengan menceburkan diri dalam hiburan,
kenikmatan sensual (terutama seksual), konsumsi produk-produk mewah,
pelesir ke tempat-tempat menyenangkan, dan sibuk beratraksi dengan
berbagai permainan. Semuanya dilakukan dengan tidak sadar, dan
sepenuhnya tunduk kepada rekayasa psikologis dari para
kapitalis-imperialis ‘pedagang kesenangan’[4].
Sebagian lagi berperilaku bak Zombie, mayat hidup yang bergentayangan
di jalan-jalan mencari mangsa; berdarah dingin tanpa emosi, bertindak
anarkis-destruktif. Sebagian lagi, terutama pada kalangan terpelajar,
kecemasan eksistensial diatasi dengan mencampakkan eksistensi mereka
sendiri, yakni dengan mengambil sikap apatis, serba skeptis, nihilistic, dan jika perlu, bunuh diri.
Jalaluddin
Rakhmat menulis, ”Ketika mereka mencampakkan Tuhan, mereka bukan hanya
terasing dari Tuhan. Mereka terlempar ke dunia tanpa mengetahui ke mana
mereka harus pergi. Mereka kehilangan arah.”[5]
Walhasil proyek kedaulatan manusia yang telah dicanangkan oleh
renaisans dan Aufklarung (reformasi) telah gagal, karena manusia modern
telah dibelenggu oleh mitos-mitos baru, berhala-berhala baru,
ilusi-ilusi baru, tahyul-tahyul baru, dan tuhan-tuhan baru! Manusia
telah terbelenggu oleh petualangan liarnya sendiri, hingga tersesat dan
tercampak dari dirinya sendiri, terasing dari alam semesta dan dari
Tuhannya yang Sejati.
5. Perlunya Merakit Peradaban Baru
Filsafat,
lewat metode berpikirnya yang ketat, mengajar orang untuk meneliti,
mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas setiap pemikiran
dan gagasan. Pendeknya, menjadikan kesemuanya itu bisa
dipertanggungjawabkan secara intelektual dan ilmiah.
Sebagaimana
Syed Hossein Nasr katakan, krisis-krisis eksistensial ini bermula pada
pemberontakan manusia modern kepada Tuhan. Krisis eksitensial ini
merupakan manifestasi dari krisis spiritual manusia modern.Ketika
manusia meninggalkan Tuhan demi mengukuhkan eksistensi dirinya, manusia
telah bergerak dari dari pusat eksistensinya sendiri menuju wilayah
pinggiran eksistensi. Kehidupan manusia modern, kata Nasr, telah
terperangkap dalam pinggiran eksistensi mereka yang semakin lama semakin
jauh meninggalkan pusat eksistensinya. Mereka kehilangan harapan
kebahagian masa depan seperti yang dijanjikan oleh gerakan renaisance, enlightment era,
sekularisme-materialisme sains dan teknologi. Oleh karena itu,
kecemasan eksistensial yang menghantui manusia modern adalah merupakan
konsekuensi logis alamiah dari modus eksistensi mereka yang mencampakkan
kehidupan spiritual dan Tuhan mereka. Krisis ini bermula ketika manusia
modern memberontak terhadap Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.
Allah sendiri telah berfirman: “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS Al-Hasyr: 19). Jika kita merujuk kepada sabda Nabi SAWW: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, akan mengenali Tuhannya.”Dan sabda Imam Ali KW: “Pokok pangkal agama adalah mengenal Tuhan.”, maka pengenalan jati diri manusia juga menjadi pokok ajaran agama.
Sayangnya,
di satu sisi, sebagian generasi muda Muslim di kampus-kampus
universitas umum maupun kampus agama Islam semacam UIN atau IAIN-IAIN
yang awalnya berlatar pendidikan pesantren tradisional, malah mengalami
gegar budaya dan intelektual, sehingga ramai-ramai berpaling pada pesona
artifisial filsafat Barat (modernisme & postmodernisme)
yang sekular-atheis, liberalis dan materialis. Di sinilah letak
tantangan dan peran alternatif filsafat Islam yang dapat mendekonstruksi
pandangan dunia (worldview) modernisme dan postmo yang masih
memberhalakan materialisme, Darwinisme, atheisme dan sekuralisme
tersebut. Munculnya fenomena kontrovesial gerakan “Islam Liberal” versus
gerakan fundamentalisme “Islam Literal” niscaya dapat diatasi dan
didamaikan dengan pendekatan Filsafat Islam.
Di
sisi lain, keprihatinan kita terhadap kondisi psikososial umat Islam
kontemporer adalah lambannya kelompok ini tampil kepermukaan dari ‘masa
usia balitanya’ dalam banyak hal. Justru di banyak kampus perguruan
tinggi ilmu umum (natural & social sciences) telah menjamur gerakan
salafi militan literalis, yang mempromosikan pemahaman keberagamaan yang
skriptualis (textual/harfiah) fiqhiyah dan superfisial, dengan semangat
fundamentalisme radikal yang mudah terpesona oleh retorika dan orasi
emosional tanpa penalaran dan pada saat sama gamang menghadapi realitas
zaman yang menuntut kemampuan memahami orang lain tanpa hanyut
kedalamnya. Mereka biasanya mengambil mengambil jalan pintas yang mudah,
yakni dengan menutup diri (eksklusif) terhadap ideologi, ajaran dan
ilmu pengetahuan asing, dengan cap stigmatis sebagai ajaran aliran
sesat, bid’ah dan berbahaya, sambil menafikan potensi kreatifitas
manusia atas nama tuhan yang mereka tafsirkan sendiri. Padahal keadaan
zaman yang semakin plural dan kompleks seperti saat ini, kita dituntut
untuk memiliki kemampuan apropriasi yang sebaik-baiknya. Inilah peran
yang dapat dimainkan oleh Fislasat Islam, yaitu membuka wawasan berpikir
umat secara holistik agar sadar terhadap fenomena dan perkembangan
wacana keagamaan dan sains kontemporer, yang membutuhkan keterbukaan,
pluralitas dan inklusifitas.
Sejarah
memberi pelajaran banyak kepada kita, bahwa pemahaman agama yang
dikhotomis, yakni mengagungkan Tuhan dengan melecehkan potensi kreatif
dan otonomi yang telah Tuhan berikan kepada manusia, pada gilirannya
akan melahirkan pemberontakan manusia kepada agama, dan bahkan juga,
kepada Tuhan. Kisah kelam ini akan menjadi amunisi kaum sekuler untuk
meminggirkan agama hanya menjadi persoalan individual dan domestik
belaka. Mereka khawatir, jika agama memasuki wilayah persoalan publik,
sebagaimana dituntut oleh sebagian kalangan umat beragama, maka agama
dapat dengan mudahdiperalat untuk kepentingan kelompok tertentu untuk
menindas kelompok lain; bahwa agama hanya menjadi topeng dari
kepentingan sesaat suatu kelompok, Kekhawatiran ini adalah wajar adanya.
Namun sempatkah kekhawatiran ini dikritisi? Benarkah kehawatiran ini
muncul dari kesadaran yang ingin menjada kesucian agama? Ataukahjustru
juga karena memiliki kepentingan yang sama, yakni ingin mendominasi
persoalan publik dengan paradigma anti agama? Ataukah karena masih
terpendamnya di alam bawah sadar mereka pekikan Nietzsche, suara Satre,
hujatan Marx dan Freud terhadap agama, sehingga secara diam-diam pembela
sekularisme ini memanifestasikan ateisme-terselubungnya itu dalam
bentuk penolakan keterlibatan nilai-nilai agama dalam persoalan publik.
Sebagaimana sering digaungkan oleh beberapa tokoh politik di Indonesia,
jangan bawa-bawa agama dalam politik!
Murtadha
Muthahhari, salah seorang filosof Muslim kontemporer, telah membuktikan
bagaimana Filsafat Islam dapat menjadi pisau bedah dan obat terapi
efektif untuk segala permasalahan yang ditemui pada masanya. Begitu juga
rangkaian para filosof Islam lainnya, sejak Ibn Sina, Ibn Rusyd,
Al-Farabi, Nasirudin Tusi, Sukhrawardidan berpuncak pada kesempurnaan
filsafat Islam (al Hikmah al Muta’aliyah) pada Mulla Sadra dan generasi
filosof sesudahnya (sepertiThabatabai, Imam Khomeini, Muthahhari, Taqi
Misbah Yazdi, Hairi Yazdi, dll).
Maka,
gerakan panjang untuk merintis dan merakit peradaban baru mestilah
segera dimulai melalui pencerahan pemikiran dan pensucian hati. Upaya
ini sangatlah niscaya dilakukan di Indonesia melalui pendekatan Filsafat
Islam (yang mensinergikan pencerahan akal, pensucian hati dan
spiritualitas agama) yang antara lain telah dirinstisoleh Islamic
College for Advanced Studies (ICAS)-Paramadina Jakarta, CIPSI (Center
for Islamic Philosophy, Science and Information) Jakarta, dan Pusat
Kajian Filsafat Tasawuf & Tauhid (PUSKAFITT) UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta dengan bekerja sama dengan para tokoh intelektual Islam dan
lembaga-lembaga akademik maupun oramas seperti IJABI, Muhammadiyah dan
NU yang mempunyai visi dan missi sama.
5. Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Rasional
Tentu
saja kritik atau tantangan filosofis yang begitu serius dan berbahaya
terhadap bangunan metafisik, epistimologis dan etis Islam ini tidak
boleh dibiarkan begitu saja, tanpa respon dan bahkan kritikyang dapat
dipertanggungjawabkan secara filosofis, karena kritik terhadap sebuah
ide atau pendirian akan dianggap benar selama tidak ada yang
membantahnya. Mungkin saja banyak orang (khususnya kaum intelektual)
yang diam-diam telah termakan oleh tesis-tesis yang dikemukakan oleh
ilmuwan-ilmuwan terkenal seperti yang telah disinggung di atas (Darwin,
Freud, dan Durkheim) berkenaan dengan realitas-realitas metafisik,
mengingat mereka telah dipandang oleh para pengikutnya sebagai
“nabi-nabi” modern di bidangnya masing-masing. Kalau ini benar, maka
bisa dibayangkan dampaknya bagi kepercayaan kita pada hal-hal metafisik.
Oleh karena itu, adalah kewajiban moral kita sebagai kaum cendikiawan
Muslim untuk sedapat mungkin memberikan jawaban-jawaban yang setimpal
atau kritik logis terhadap pendirian filosofis mereka, agar dengan
demikian keyakinan kita pada yang ghaib dapat terpelihara dengan baik
dalam hati kita, di bawah naungan benteng filosofis yang tangguh dan
tahan serangan.
Namun
kitapun segera menyadari bahwa tugas ini maha berat, jauh lebih berat
daripada yang dihadapi misalnya oleh al-Ghazali, apalagi al-Asy’ari.
Karena yang kita hadapi, seperti telah disinggung di atas, adalah
tantangan-tantangan filisofis yang berasal dari kaum positivis yang
tidak percaya pada ajaran-ajaran agama, maka mereka hanya bisa dihadapi
secara filosofis juga, yakni, berdasarkan kekuatan nalar rasional dan
logik, bukan kekuatan religius dogmatik. Seperti halnya al-Ghazali telah
menggunakan argumen filosofis ketika menjawab tantangan filosofis, maka
kitapun harus menggunakan argumen-argumen filosofis untuk menjawab
tantangan-tantangan yang kita bicarakan. Tetapi untuk dapat merumuskan
jawaban-jawaban filosofis berdasarkan argumen-argumen rasional, mau
tidak mau kita harus memperkuat bidang kajian filsafat kita, dengan
misalnya mengkaji secara intensif karya-karya agung para filosofis
Muslim, baik yang berkenaan dengan doktrin maupun metodologi. Namun hal
tersebut mustahil kita capai kecuali dengan menghidupkan kembali
ilmu-ilmu rasional yang telah berabad-abad dikembangkan oleh para
filosof Muslim, tetapi yang di sebagian dunia Islam telah diabaikan
kira-kira satu millenium, setelah serangan al-Ghazali terhadap mereka.
Namun sebelum kita melanjutkan pemerian kita mengenai tujuan dan sasaran
yang hendak kita capai dalam upaya revitalisasi ilmu-ilmu rasional ini,
barangkali ada baiknya kita mencoba terlebih dahulu untuk menaksir
“potensi” revitalisasi ini untuk menjawab tantangan-tantangan filosofis
kontemporer. Dan ini tidak boleh hanya berdasarkan perhitungan
hipotesis, melainkan harus bersandar pada data historis yang nyata. Oleh
karena itu, saya ingin mengangkat kasus dunia Syiah, untuk mengambil
pelajaran yang sangat berharga dari apa yang dilakukan saudara-saudara
kita sesama Muslim yang dibesarkan dalam tradisi Syiah, yang senantiasa
memelihara tradisi keilmuan rasional Islam bahkan hingga detik ini.
Kasus
Dunia Syiah –yang merupakan minoritas dari umat Islam– dalam
perkembangan ilmu-ilmu rasional ini cukup berbeda dengan kasus dunia
Sunni. Di dunia Syiah tradisi keilmuan rasional-filosofis tidak pernah
betul-betul mati. Bahkan dari abad ke abad tradisi tersebut senantiasa
dijaga dan dikembangkan sehingga mampu melahirkan beberapa filosof
terkemuka hampir di setiap abad. Tidak sampai satu abad setelah serangan
al-Ghazali terhadap filsafat, tradisi dan sistem filsafat Ibn sina
telah dihidupkan kembali dan dikembangkan dengan modifikasi illuminatif
oleh Syihab al-Din Suhrawardi al-Maqtul (w. 587/1191) yang dikenal
dengan “Syaikh al-Isyraq.” Demikian juga serangan terhadaap filsafat Ibn
Sina oleh Fakh al-Din al-Razi (w. 606/1209) dijawab oleh Nasir al-Din
Thusi (w. 673/1274), seorang fiolsof dan astronom Syiah yang terkenal.
Dalam kapasitasnya sebagai direktur observatori Maraghah, Thusi
mengembangkan tradisi filsafat Ibn Sina dengan gigih dan konservatif.
Sedangkan tradisi-tradisi illuminasionis dipertahankan dan dikembangkan
dengan warna Peripatetik oleh Qutb al-Din Syirazi (w. 701/1311), murid
dan rekan kerja Thusi di observasinya, yang juga seorang
astronom-filosof Syiah yang cukup terkemuka pada masanya.
Demikian
juga pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Shafawi, pada abad keenam
belas dan tujuh belas, tradisi filsafat dan ilmu-ilmu rasional–yang pada
saat itu telah diperkaya oleh tradisi illuminasionis yang diprakarsai
Suhrawardi dan tradisi mistiko-filosofis yang berasal dari Ibn al-’Arabi
(w. 638/1240)–terus dilestarikan dan dikembangkan dalam apa yang
kemudian dikenal dengan “mazhab Isfahan” (The School of Isfahan)
yang dipimpin oleh Muhammad Baqir Astarabadi atau lebih dikenal dengan
sebutan Mir Damad (w. 1042/1632), yaitu salah seorang guru yang
berpengaruh dari Mulla Shadra.
Tentu
saja perkembangan ilmu-ilmu filsafat mencapai puncaknya dalam
karya-karya agung Shadr al-Din Syirazi (Mulla Shadra) yang telah
berhasil mensintesakan berbagai tradisi filsafat bahkan tradisi
mistik–Ibn al-’Arabi dan juga Rumi (w. 672/1273)–yang berbeda-beda ke
dalam sebuah sistem filosofis yang solid yang dikenal sebagai “teosofi
transenden” (al-hikmah al-muta’aliyah). Ajaran filsafat Mulla
Shadra kemudian dikembangkan oleh kedua muridnya, Mulla ‘Abd al-Razzaq
Lahiji (w. 1072/1661) dan Mulla Faidl Kasyani (w. 1091/1680) dalam
karya-karya mereka yang agung. Hasil dari semaian mereka muncullah
filosof-filosof besar lainnya, seperti Syaikh Ahmad Ahsha’i (w.
1241/1826) dan Mulla Hadi Sabzawari (w. 1295/1878) yang keduanya hidup
pada masa Qajar. Bahkan, sampai abad kedua puluh inipun dunia Syiah
masih melahirkan filosof-filosof yang disegani dunia, seperti Murtadha
Muthahhari (w. 1400/1979), Sayyid Muhammad Thabathaba’i (w. 1402/1981),
Sayyid Jalal al-Din Asytiyani dan Mahdi Ha’iri Yazdi, yang keduanya
masih hidup sampai detik ini. Dan tentu saja kita tidak boleh
mengabaikan tokoh lain yang lebih akrab dengan kita seperti Shadr
al-Baqir dan SayyedHossein Nasr, yang telah banyak kita kenal lewat
tulisan-tulisan mereka.
Yang
menarik dan lebih relevan dengan persoalan kita kali ini adalah bahwa
di tangan para filosof yang telah disebutkan di atas inilah tradisi
filsafat dan ilmu-ilmu rasional dipelihara, diolah dan dikembangkan
secara sistematik sehingga mencapai tingkat kecanggihan yang tinggi.
Konservasi dan pengembangan tradisi filosofis dan ilmiah inilah yang
memungkinkan para filosof Syiah untuk membangun sistem-sistem filosofis
yang besar, kokoh dan independen dan juga menyusun metodologi filosofis
yang cocok dengan semangat pencaharian filosofos (philoso- phical inquiries)
dan sesuai dengan perkembangan zaman. Sistem-sistem filosofis yang
mereka bangun ini pada gilirannya memungkinkan mereka untuk mengadakan
respon, dialog dan bahkan koreksi yang konstruktif dengan rekan
filosofisnya dari dunia Barat. Oleh karena itu, tidak heran kalau
seorang Thabathaba’i misalnya telah berhasil dengan baik dalam
memberikan dialog atau lebih tepat kritik yang jitu terhadap Marxisme
yang pernah dikembangkan di Iran oleh Partai Tudeh dan sangat
berpengaruh terhadap kaum intelektual muda Iran. Dalam bukunya Osul-e Falsafeh va Ravesh-e Realim atau Prinsip Filsafat dan Metode Realistik,
Thabathaba’i (dibantu dan dipopulerkan olah Murtadha Muthahhari) telah
melakukan kritik yang sistematik dalam 14 risalah filosofis terhadap
Marxisme, sehingga mampu memperkuat revolusi Iran dari dimensi
filosofisnya. Demikian juga Mahdi Ha’iri Yazdi, murid dari Asytiyani dan
Imam Khomeini, dan kini seorang professor filsafat di Universitas
Teheran, telah mempersembahkan eksposisi filosofis–terutama dari sudut
epistimologi–yang kemungkinan “pengalaman mistik” secara filosofis dalam
sebuah kayanya yang penting, The Principles of Epistimology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence.
Di sini ia menjelaskan dengan fasih dan dengan terminologi modern bahwa
pengalaman mistik merupakan pengalaman obyektif dan bisa dijelaskan
secara logis, dan bukan seperti yang sering dianggap oleh sementara
ilmuwan sekuler sebagai “halusinasi.”
Cukuplah
kiranya dua contoh di atas menjadi illustrasi kepada kita bahwa tradisi
rasional dan filosofis Islam, kalau terus menerus dipertahankan dan
dikembangkan akan sangat potensial untuk mampu menjawab
tantangan-tantangan filosofis kontemporer yang muncul dari berbagai
sistem filosofis dan ilmiah yang bersumber pada ajaran positivisme,
materialisme, sekularisme dan atheisme.
Setelah
kita mengetahui tantangan-tantangan filosofis yang kita hadapi saat ini
dan urgensi untuk menjawabnya secara memadai, dan setelah menganalisa
potensi dan aktualitas dari konservasi dan pengembangan tradisi
rasional-filosofis dalam memberikan jawaban-jawaban yang diharapkan,
dengan mengetengahkan kasus para filosof Muslim Syiah, maka saatnya kini
bagi kita untuk merumuskan tujuan ideal dan sasaran-sasaran tertentu
yang hendak kita capai dalam upaya kita menghidupkan kembali ilmu-ilmu
rasional.
Adapun
tujuan tersebut dapat kiranya dirumuskan sebagai berikut: Revitalisasi
ilmu-ilmu rasional kita usahakan untuk mengenal lebih dekat doktrin dan
metode penelitian para filosof Muslim. Dari segi metodologi kita ingin
mengetahui misalnya berbagai jenis metode ilmiah dan logis yang mereka
gunakan (misalnya retorik, puitis, dialektik, dan demonstratif) serta
tingkat validitasnya. Selain itu kita juga ingin mengenal lebih jauh
lagi kegiatan-kegiatan ilmiah macam apa yang mereka lakukan baik di
bidang ilmu-ilmu kealaman (seperti penelitian fisika dan kimia di
laboratorium atau eksperimen-eksperimen di bidang optik atau astronomi
dan juga instrumen-instrumen pembantu yang mereka ciptakan dan gunakan)
maupun bidang-bidang spekulasi filosofis dan pengalaman mistik. Selain
tentang metodologi, kita juga ingin mengenal lebih baik lagi
ajaran-ajaran (doktrin) filosofis mereka baik yang berkenaan dengan
aspek metafisik, epistimologis dan aksiologis termasuk di dalamnya
asumsi-asumsi dasar filosofis, rancangan-rancangan metafisik,
epistimologi dan etik yang didasarkan pada asumsi-asumsi tersebut dan
juga proses evolusi kreatif bangunan filsafat mereka dari yang sederhana
sampai yang paling canggih.
Selain
itu, revitalisasi ilmu-ilmu rasional ini juga mempunyai tujuan praktis
yang tidak kalah pentingnya, yaitu melindungi kepercayaan agama dengan
dan dalam sebuah benteng filosofis yang dibangun di atas dasar-dasar
logika yang handal. Jadi berbeda dengan tujuan tujuan al-Ghazali dalam
menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama yaitu untuk menghantam ilmu-ilmu
rasional, revitalisasi ilmu-ilmu rasional kali ini justru untuk
menguatkan dan melindungi kepercayaan agama dari serangan-serangan
filosofis dan ilmiah yang dilancarkan oleh para pendukung filsafat
positif-sekuler, dan bukan untuk menggugat apalagi menyerang kepercayaan
agama. Tantangan filosofis seperti ini tentunya harus dihadapi secara
filosofis dengan argumen-argumen rasional yang solid dan sistematik, dan
bukan dengan dogma-dogma religius.
VISI
Membangun
dan menyempurnakan kualitas intelektual, spiritual dan amal shaleh
(program kerja) umat Islam dalam kerangka pandangan dunia Islam demi
mewujudkan peradaban Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam
semesta.
MISSI (TUJUAN)
1.Melakukan
penelitian-pengembangan (merekonstruksi) Pandangan Dunia Islam melalui
kajian komprehensif-integratif: Filsafat Islam dan Sains Moderen,
Tasawuf (Irfan) dan Tauhid
2.Menghidupkan
kembali (merevitalisasi) tradisi keilmuan rasional yang terintegrasi
secara holistik dalam pandangan dunia Islam (Tauhid) berdasarkan
al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saaw.
3.Mengiatkan penelitian dan pengembangan serta merekonstruksi sistem ilmu pengetahuan umat Islam (natural science, social science dan religious science).
4.Mensosialisasikan
hasil-hasil kajian dan informasi yang dimiliki Bayt al-Hikmah kepada
Umat Islam pada khususnya serta umat manusia pada umumnya, melalui
berbagai media komunikasi eletronik & cetak, paket kajian, diskusi,
seminar, dll.
NAMA LEMBAGA :
BAYT AL-HIKMAH,
Pusat Kajian dan Pengebangan Filsafat, Tasawuf, Sains dan Peradaban
Direktur:
Ahmad Y. Samantho, S.IP, MA. M.Ud
(HP 0852 3825 0133, e-mail: ay_samantho@yahoo.com, ahmadsamantho@gmailcom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar